Psycho Avatar

Posted At Monday, December 24, 2007

Idul Adha 1428 H: Sebuah Catatan

Salah satu penyesalan yang muncul tidak lama setelah saya berhenti kerja setahun yang lalu adalah saya lupa bahwa tidak lama setelah itu adalah bulan haji. Berqurban dengan uang sendiri dan dari hasil jerih payah sendiri adalah cita-cita saya. Sebetulnya, tabungan saya saat itu lebih dari cukup untuk sekedar membeli satu ekor kambing. Akan tetapi, saat itu ternyata belum saatnya bagi saya berqurban. Ada kondisi-kondisi darurat yang menyebabkan tabungan saya tersebut terpakai…dan habis.

Alhmdulillah, tahun ini saya diberi kesempatan untuk berqurban dari hasil jerih payah sendiri. Dan saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Meskipun, bukan hal yang mudah juga ‘bergelut’ dengan berbagai macam pikiran yang muncul setelah niat berqurban itu muncul. Ada godaan-godaan yang memang ‘menggoda’. “Don, kamu kan pengen laptop, kalau qurban uangnya kurang dong…“. “Don, katanya pengen beli hub, dvd rom dan monitor baru…“. “Don, itu kamera DSLR lagi nunggu kamu beli tuh…“. Duh…!! Tidak jarang juga muncul dorongan untuk membatalkannya. Hanya saja, saya tidak ingin melalui Idul Adha tahun ini dengan penyesalan lagi.

Ketika menulis ini, muncul perasaan khawatir disebut riya kalau menceritakan amal yang telah dilakukan. Namun, takut riya juga ternyata malah masuk kategori riya. Akan tetapi, setelah ‘merenungi’ lagi perjalanan Rasulullah dan para sahabatnya, mereka melakukan amalan-amalan secara terang-terangan. “Luruskan niat!”, kata AA Gym. Terbayang kembali ketika Umar Bin Khattab r.a menyerahkan setengah harta yang didapatkannya untuk Jihad, yang kemudian dijawab oleh Abu Bakar ash-Shiddiq r.a, “Saya serahkan semua harta yang saya dapatkan hari ini, ya Rasulullah!” Barangkali, masalahnya bukan diceritakan atau tidaknya suatu amalan. Ada saatnya harus diceritakan, ada saatnya harus disembunyikan. Toh, keikhlasan seseorang hanya Allah yang tahu. Kita hanya bisa ‘merasa’ ikhlas padahal tidak, atau ketika kita tidak merasa ikhlas, namun ternyata di sisi Allah kita termasuk orang-orang yang ikhlas.

Kali ini, bukan tanpa tujuan dan alasan jika kemudian saya menceritakan pengalaman berqurban pada Idul Adha tahun ini. Selama ini, saya sudah sering juga ‘menasihati’ orang-orang terdekat saya untuk berqurban. Barangkali, dengan melakukannya terlebih dahulu, ajakan saya itu akan lebih didengar. Pada dasarnya, setiap orang paling enggan untuk ‘diperintah’. Orang lebih melihat keteladanan daripada hanya sekedar ‘perintah’. Salah satu kunci keberhasilan dakwah Rasulullah adalah keteladanan, dan saya ingin mencontoh cara-cara Rasulullah tersebut. Sehingga, ajakan saya tidak hanya sekedar omongan saja, tapi juga disertai dengan bukti.

Di sisi lain, saya juga memiliki teman-teman yang memiliki ‘tabungan’ yang saya perkirakan jumlahnya jauh lebih banyak daripada apa yang saya miliki. Akan tetapi, mereka belum tergerak untuk berqurban. Barangkali, dengan cara seperti ini, mereka bisa tergerak untuk berqurban juga. Fastabiqul khoirot. Jika saya yang masih ‘ngos-ngosan’ untuk mencari penghidupan sehari-hari saja bisa untuk berqurban, seharusnya mereka yang kondisi ekonominya lebih baik, jauh lebih mampu lagi.

Sebetulnya tidak sulit dan tidak berat jika kita mau. Menjadi sulit dan berat karena biasanya kita mengikuti ‘bisikan’ yang muncul di dalam hati kita. Kita terlalu memikirkan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu ditakuti. Takut ini, takut itu, bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu. Salah satu rahasia yang saya dapatkan agar ibadah atau amalan menjadi lebih mudah adalah…Just Do It! Karena pada dasarnya, ibadah menjadi ringan karena kerelaan atau kepasrahan ketika melakukannya. Semakin banyak yang kita pikirkan dan takuti, semakin berat kita melakukan ibadah.

Pada kasus saya, dana untuk qurban itu saya alokasikan jauh-jauh hari. Tidak bisa diganggu gugat lagi, kecuali memang ada kondisi yang lebih darurat. Dengan menempatkan qurban sebagai prioritas utama, menjadikan qurban ada di posisi yang sangat penting. Dan karena sangat penting, maka menjadi sebuah keharusan atau bahkan kewajiban bagi saya untuk melakukannya. Dengan cara seperti itu, berqurban akan menjadi sangat mudah. Itulah yang saya lakukan. Kita tidak akan merasa terlalu ’sayang’ ketika uang yang kita miliki berpindah tangan kepada amil jika kita titipkan, juga kepada penjual domba atau sapi jika kita membelinya sendiri.

Cara lain adalah dengan menempatkan qurban sebagai sebuah kebutuhan, terlebih lagi keinginan. Jika kita membutuhkan sesuatu, maka kita akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dan karena merasa butuh, kita pun biasanya akan merasa ringan untuk mengeluarkan uang berapa pun jumlahnya. Harga seekor kambing untuk qurban berkisar antara 600 ribu - 1 juta. Harga ponsel jauh lebih mahal, tapi kita tidak merasa keberatan untuk membelinya karena kita menginginkannya. Jutaan orang pergi haji juga bukan semata-mata karena kewajiban sebagai seorang muslim saja, tapi juga karena keinginan haji tersebut sudah mendarah-daging, sehingga puluhan juta rupiah pun tidak berat mengeluarkannya.

Sebetulnya, saya merasa Idul Adha bukan hari raya buat saya. Karena alasan yang sangat personal. Saya tidak suka daging kambing dan daging sapi. Terlebih bau daging kambing yang sering membuat saya menderita. Maka, saya kadang-kadang malah merasa malas jika mendekati hari raya Idul Adha. Belum lagi penderitaan itu masih akan terus berlangsung selama beberapa hari sesudahnya, karena bau darah daging kambing yang biasanya bertahan cukup lama. Sementara kebanyakan umat Islam ‘berpesta’, saya tersiksa :( Nafsu makan saya turun drastis ketika Idul Adha dan beberapa hari sesudahnya. Saya juga sering uring-uringan kalau ibu memasak apa pun yang berbau kambing. Karena alasan itu pula, saya enggan dan tidak pernah terlibat dalam kepanitiaan Idul Adha. Akan tetapi, ketidaksukaan saya itu tentunya bukan menjadi alasan untuk tidak melakukan qurban. Syariat tidak bisa dipatahkan hanya karena kita tidak menyukai suatu hal yang berhubungan dengan syariat itu.

Bagi orang-orang seperti saya yang tidak menyukai daging kambing atau sapi, barangkali ‘godaan’-nya terasa lebih berat. Dalam qurban ada sepertiga hak bagi yang melakukannya. Pada kasus orang-orang seperti saya, tentunya tidak bisa menikmati hak tersebut. Hal ini tentunya menjadikan qurban yang kita lakukan tidak ‘berasa’, karena kita seolah-olah membeli sesuatu, tapi kita tidak mendapatkan apa-apa. Akan tetapi, kalau logikanya dibalik, kita bisa lebih bersyukur karena daging qurban kita bisa ‘menjangkau’ dan dinikmati lebih banyak orang. Dan barangkali, diantara banyak orang tersebut, ada yang mendoakan kebaikan untuk kita dan dikabulkan oleh Allah. Siapa pula yang tidak ingin didoakan oleh banyak orang?

Saya akan merasa lebih senang jika mendapati orang-orang disekitar saya lebih tertarik dan berusaha untuk bersama-sama berlomba dalam beramal sholeh. Salah satunya berqurban. Iri pada orang-orang sholeh adalah iri yang diperbolehkan, bahkan dianjurkan. Apabila semangat fastabiqul khoirot tertanam di dada setiap orang, maka akan tercipta kondisi di mana setiap orang bersaing untuk melakukan amal sholeh. Jika dunia sudah dipenuhi oleh orang-orang yang berusaha untuk beramal sholeh, rasanya kita tidak perlu menyaksikan lagi kasus-kasus rebutan daging qurban di televisi-televisi kita, yang membuat kita mengelus dada dan geleng-geleng kepala.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 241207. 05.03

Labels: ,

Posted At Monday, December 10, 2007

Mitos Sialan

Ah, masih saja terjadi. Di zaman internet sudah menjadi sebuah kebutuhan seperti sekarang ini, sebuah pernikahan harus ditentukan oleh ‘hitung-hitungan’ sang kyai dukun. Meskipun katanya seorang kyai, saya lebih suka menyebutnya dukun.

Pagi ini teman saya uring-uringan. Hubungan yang sudah terbina cukup lama dengan sang calon, terancam gagal gara-gara setelah bertanya pada sang dukun, kedua nama mereka dalam hitungan sang dukun tersebut tidak baik jika disandingkan. Jadilah teman saya tersebut hampir putus asa. Dia merasa, sama saja bohong usaha selama ini, kalau pada akhirnya harus ditentukan oleh hitung-hitungan tidak logis semacam itu. Kenapa tidak sejak pertama saja? Ya, saya memahami kegelisahan dan kemarahannya.

Sebagai seorang teman yang dimintai saran dan pertimbangan, saya pun memberikan beberapa saran dan pandangan saya soal masalah tersebut. Memang mengkhawatirkan dan menggelikan masalah semacam itu. Sampai saya harus mengatakan, “bilang saja sama dia, kamu dan keluarga juga sudah melakukan perhitungan, tapi hasilnya baik-baik saja, nggak ada masalah. Jadi, yang goblok kyai-nya siapa kalau begitu? Mesti salah satu yang bener. Kalau nggak, berarti dua-duanya goblok!“ Teman saya sampai tertawa dan malah meng-iya-kan saran saya tersebut.

Lebih mengkhawatirkan lagi setelah mengetahui latar belakang keluarga calon teman saya itu. Sang calon sendiri seorang sarjana, kakaknya seorang Guru Besar di sebuah Universitas Negeri di Kota Bandung. Keluarganya golongan berada. Ini tentu sebuah ironi atau bahkan tragedi. Hasil pendidikan bertahun-tahun tidak menjadikan pikirannya rasional. Namun, realita juga membuktikan, banyak sarjana, master dan doktor yang masih saja percaya dukun dari pada percaya diri. Sayang sekali. Bagaimana Indonesia bisa maju ya?

Akan tetapi, status kyai yang disandang sang dukun membuat saya lebih merasa khawatir lagi. Konon sang dukun juga punya pesantren. “Jangan-jangan santrinya juga tukang hitung-hitungan ya?“, seru teman saya dan bikin kami berdua terbahak-bahak. Seorang kyai yang semestinya mengajarkan kelurusan aqidah malah mengajarkan sebuah kesesatan dan menjadi panutan pula. Dan kita bisa mendapati orang-orang semacam ini dengan sangat mudah di sekitar kita.

Sejak kecil, Alhamdulillah, saya dianugerahi pikiran yang rasional. Sehingga sering saya merasa heran, kenapa orang-orang harus datang ke dukun? Kenapa adik tidak boleh mendahului kakaknya kalau menikah? Kenapa kalau salah satu keluarga saya mengadakan pesta rumahnya selalu bau kemenyan? Kenapa juga harus ada hari baik dan tidak baik? Kenapa harus ada tahlilan? Atau bahkan soal mitos-mitos yang beredar di masyarakat. Pada akhirnya, saya tumbuh jadi pemberontak terhadap hal-hal semacam itu.

Meskipun sebagian mitos tersebut membawa ajaran Islam, namun ternyata Islam yang saya pelajari tidak pernah mengajarkan hal-hal semacam itu. Islam yang saya pelajari adalah Islam yang rasional. Soal pernikahan saja, Islam mengajarkan untuk menyegerakan jika dirasa sudah mampu. Tidak menjadi soal apakah ketika menikah kakaknya didahului atau tidak. Jika pernikahan itu sebuah ibadah, masa iya sebuah ibadah harus dihalang-halangi gara-gara sesuatu hal yang konyol dan tidak terbukti kebenarannya? Bahkan, saya sering sekali mengutip ucapan seorang ustadz, “lahir sih boleh kakak duluan, tapi kalo soal jodoh juga harus kakak duluan, berarti mati juga harus kakak duluan dong…

Soal larangan mendahului kakak ini, saya menyaksikan betapa salah seorang teman perempuan saya sangat tersiksa gara-gara sang pacar belum juga mau melamar karena kakak perempuannya belum menikah. Sialnya, sang kakak ini juga tidak tahu diri, dia terus saja mencari calon yang dirasa cocok dan tidak mengijinkan adiknya untuk mendahului. Ditambah lagi dengan pola pikir keluarganya yang ‘kolot’, semakin lengkaplah penderitaan teman saya ini. Akhirnya, putus juga. Kadang-kadang saya senewen sendiri mendengar kasus-kasus semacam ini.

Belum lagi soal perhitungan hari baik yang ternyata hasil perhitungannya pun menggelikan. Bagaimana tidak menggelikan juga suatu pesta pernikahan diadakan di hari kerja? Konon jika menikah di hari yang ditentukan itu, sebuah pernikahan akan langgeng dan membawa kebahagiaan. Ini tentunya merepotkan undangan dan keluarga pengantin sendiri karena bukan waktu yang tepat. Bagi saya, semua hari berpotensi untuk memiliki kebaikan. Rumus hari pernikahan bagi saya dan beberapa orang teman adalah…”adakan pernikahan di hari sabtu/minggu, dan di awal bulan!” Karena awal bulan adalah saat-saat gajian, dan kalau pun harus menyumbang, tidak dirasa memberatkan.

Kebanyakan anak-anak muda sekarang mungkin sudah tidak lagi peduli dan memikirkan hal-hal semacam ini. Akan tetapi, generasi orang tua masih sangat banyak yang menganggap hal semacam ini penting. Untungnya orang tua saya tidak seperti itu. Perlu diakui, masih agak sulit melepas mitos-mitos semacam itu. Indonesia adalah sebuah negara yang kebudayaannya sebagian besar dibangun oleh mitos. Maka, hampir di setiap tempat di seluruh Indonesia, kita mendapati mitos daerahnya sendiri-sendiri. Saya sendiri sering merasa khawatir jika suatu saat dipertemukan dengan calon mertua yang seperti itu. Saya hanya merasa khawatir tidak mampu bersikap bijaksana, itu saja.

Hidup ini terlalu serba tidak pasti untuk diramal. Toh, kyai, paranormal atau pun dukun-dukun itu pun belum tentu berbahagia dengan hidupnya. Belum tentu juga dia bisa meramalkan nasibnya sendiri, apalagi nasib orang lain. Masa iya kita harus percaya pada mereka yang tidak tahu menahu tentang nasibnya sendiri?

C 1 H 3 U L 4 17 6. 101207. 03.08

NB: Agak kurang sreg dengan judulnya :D

Labels: , ,

Posted At Monday, November 12, 2007

Purnama, Shaum dan Simbol Romantisme

Berselang cukup lama, sekitar 3 bulan, ketika sebuah diskusi bersama teman-teman seperjuangan menjelang Ta’lim Rutin SSG Cibeunying, menginspirasi saya untuk menuliskan hasil diskusi tersebut. Ide menulisnya sudah cukup lama, tapi baru teringat lagi sekarang. Diskusi tersebut berbicara tentang…seks. Di dalam masjid…tapi memang tidak ada masalah dengan itu kan?

Saya lupa lagi darimana awalnya, yang jelas pada akhirnya diskusi tersebut berujung di topik tersebut. Ada 4 orang yang terlibat diskusi, 1 orang sudah cukup lama menikah, 1 orang baru menikah, 2 orang lagi belum, saya salah satu dari yang terakhir itu. Berawal dari rasa penasaran saya, saya mengajukan pertanyaan kepada rekan yang sudah cukup lama menikah.

Pak, penasaran nih…Dalam Al-Quran kan ada satu ayat yang mengijinkan untuk melakukan hubungan suami-istri di malam hari, pada bulan Ramadhan. Memang seberapa besar sih pengaruh ayat tersebut kepada orang yang menikah?

Makanya, kalian harus menikah dulu, baru tahu bagaimana rasanya. Hehehe. Islam itu luar biasa, betul-betul Agama fitrah, sangat mengerti betul dengan kebutuhan manusia. Salah satunya adalah ayat tersebut. Kalau kalian sudah menikah, akan terasa betul manfaat dari ayat tersebut. Apalagi pada saat bulan purnama?

Purnama, pak? Memang apa hubungannya?” tanya saya lagi keheranan.

Tahu kan bagaimana pengaruh bulan pernama terhadap pasang-surut air laut? Nah, ternyata bulan purnama itu juga berpengaruh terhadap pasang-surut libido manusia juga. Ketika purnama, akan terasa betul hasrat seks itu ada di puncaknya, coba saja perhatikan dan rasakan…!

Wah, kok saya baru tahu ya? Perasaan kok biasa-biasa saja ya? Apa karena tidak pernah saya perhatikan kali ya?

Ya, mungkin karena tidak pernah diperhatikan. Hal ini juga cukup menjadi alasan kenapa Rasulullah menjadikan pertengahan bulan (13,14,15) hijriyah untuk melakukan shaum sunat, terutama bagi para bujangan seperti kalian. Pada saat itu kan bulan sedang purnama. Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan perintah shaum bagi mereka yang mampu menikah, tapi belum memiliki kesempatan. Shaum itu bisa menjadi rem. Ini juga menjadi bukti bahwa perintah-perintah Rasulullah tersebut bukan asal perintah, tapi ada makna di balik itu semua.

Hmm, saya jadi penasaran nih pak, jangan-jangan cerita soal Werewolf itu juga inspirasinya dari fenomena ini ya? saking ‘berat’-nya menahan hasrat, jadi aja Serigala…” canda saya.

Oh, iya…bisa jadi. Barangkali itu merupakan simbol bahwa ketika bulan purnama, nafsu kita sedang memuncak dan menyerupai binatang dari sisi itu.

Wah, pantesan tiap-tiap film romantis biasanya disorot adegan bulan purnama, tapi sebetulnya sih banyakan film horor kalau bulan purnama. Apa karena itu juga kenapa, bisa dikatakan, setiap orang suka melihat bulan purnama dan jadi sentimentil tiap lihat bulan purnama? Trus, yang kebayang tuh…’andai ada si dia disisiku, halah!’ Hehehe. Kalau yang sudah menikah kan asyik, nah yang belum kayak kita-kita ini kan jadinya…shaum lagi, shaum lagi, mupeng deh!!

Haha, iya, mungkin itu juga alasannya, kenapa ketika bulan purnama yang terbayang hal-hal yang romantis melulu.

Pembicaraan kami berakhir karena pemateri untuk ta’lim saat itu sudah datang. Hmm, ada yang punya pengalaman lain dengan purnama nggak ya?

C 1 H 3 U L 4 17 6. 121107. 03.30

Labels: , ,

Posted At Wednesday, October 31, 2007

Lebaran Yang Lucu

Lebaran 1428H yang telah lalu barangkali merupakan lebaran yang paling lucu buat saya dan mungkin juga bagi keluarga saya. Meskipun pada awalnya seluruh anggota keluarga diliputi kebingungan dengan terjadinya lagi perbedaan keputusan berlebaran antara pemerintah dengan beberapa ormas, diantaranya dengan Muhammadiyah. Seperti biasa, yang menjadi sumber perbedaan tersebut adalah metode pengambilan keputusan yang digunakan oleh pemerintah dan Muhammadiyah. Pemerintah dengan ru'yatul hilal-nya, dan Muhammadiyah dengan hisab ditambah kriteria wujudul hilal-nya. Namun, keduanya meyakini bahwa metode yang digunakan bisa dipertanggungjwabkan secara hukum syariat dan ilmu pengetahuan.
More...
Pada tahun-tahun sebelumnya, saya dan keluarga biasanya mengikuti Muhammadiyah, entah awal ramadhan, lebaran maupun ber-idul adha. Ibu saya yang dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah menjadi salah satu alasannya, sementara ayah saya biasanya mengikuti ibu, begitu pula anak-anaknya, termasuk saya. Akan tetapi, belakangan ini, pendapat-pendapat saya juga sudah mulai dipertimbangkan. Mungkin mereka menyadari bahwa saya sudah bukan anak kecil lagi, apalagi orang tua saya juga mengetahui minat saya mempelajari Islam. Pengetahuan saya tentang isyu-isyu dunia Islam yang sedikit lebih banyak dibandingkan seluruh anggota keluarga juga menjadikan omongan saya 'didengar'. Bahkan adik saya pernah menyarankan kepada saya untuk menjadi ustadz atau dai saja, sementara saya hanya garuk-garuk kepala saja mendengarnya, meskipun tidak ada yang gatal. Karena bagi saya lebih mudah untuk menulis seharian daripada berbicara di depan umum 10 menit, apalagi berjam-jam.

Keluarga saya biasanya terbuka dengan permasalahan-permasalahan semacam ini, tidak jarang terjadi perdebatan kecil antara saya dengan ayah, dengan ibu atau dengan adik. Paling sering dengan ibu, mungkin karena selama ini, ibu memang lebih mengerti tentang agama dibandingkan ayah dan anak-anaknya. Belakangan, setelah sedikit demi sedikit pengetahuan tentang Islam masuk ke dalam diri saya, seringkali saya menjadi seorang pengkritik terhadap ibu. Sementara ayah biasanya percaya dan nurut saja dengan penjelasan yang diberikan oleh saya, ibu atau adik, mungkin menyadari keterbatasan dirinya dalam bidang agama. Akan tetapi, tujuan kami sebenarnya baik, berdiskusi untuk menentukan keputusan terbaik, minimal bagi keluarga kami. Namun, toh, tidak pernah terjadi perasaan sakit hati diantara kami, karena diskusi yang dilakukan juga dilakukan dalam suasana sebuah keluarga yang dilakukan secara santai namun tetap serius.

Mentang-mentang sudah membaca buku 'Fiqih Astronomi' karya Thomas Djamaludin sejak 2 tahun yang lalu, saya mulai jadi 'sok tahu'. Buku tersebut berisi kumpulan tulisan penulis mengenai permasalahan penentuan awal bulan dalam Islam. Dari buku tersebut juga saya mengetahui tentang hilal, ru'yat dan hisab, serta kriteria-kriteria yang dipakai dalam pengambilan keputusan untuk menentukan awal bulan.

Adakalanya mengetahui tentang sesuatu tidak selalu memudahkan. Apa yang terjadi pada saya setelah membaca buku tersebut adalah sebuah kebingungan. Bukan terhadap isi buku tersebut, tapi pada bagaimana sebaiknya bersikap atau memilih. Jika dulu, sebelum tahu dalil-dalil atau metode yang digunakan untuk menentukan awal bulan, saya tinggal mengikuti saja mau lebaran kapan pun tidak ada beban. Namun, sekarang, setelah mengetahui ilmu yang sedikit itu, saya merasa tidak bisa lagi bersikap seperti itu. Barangkali karena baru tahu sedikit itulah saya menjadi bingung

Ke-sok tahu-an saya mulai akut ketika menjelang lebaran yang lalu saya 'mengeluarkan fatwa' untuk berlebaran pada hari Sabtu, 13 Oktober 2007, kepada keluarga saya. Itu artinya, untuk lebaran kali ini keluarga kami 'cerai' dulu dari Muhammadiyah. Bukan tanpa alasan saya memutuskan untuk berlebaran hari sabtu. Sebuah tulisan di majalah Risalah keluaran PERSIS cukup meyakinkan saya bahwa hari Kamis (11/10/07), hilal tidak mungkin terlihat di Indonesia, meskipun sebetulnya Muhammadiyah pun sudah jauh-jauh hari mengatakan bahwa hilal memang mustahil terlihat saat itu, karena syarat-syarat terlihatnya hilal memang tidak terpenuhi. Selain itu, fatwa MUI yang memerintahkan setiap umat Islam untuk mengikuti dan mentaati pemerintah menjadi alasan yang cukup kuat bagi saya untuk 'mengeluarkan fatwa' itu. Yang terakhir adalah dalil-dalil dari hadits-hadits sahih yang memerintahkan untuk berpuasa ketika melihat hilal dan berbuka jika melihat hilal. Demi agar lebaran yang saya lakukan sesuai dengan syariat Allah dan Rasul-Nya. Meskipun, yang sesungguhnya terjadi, saya merasa sudah 'mengkhianati' akal dan keyakinan saya sendiri, karena sesungguhnya saya lebih meyakini metode pengambilan keputusan yang dilakukan oleh Muhammadiyah dengan hisab dan kriteria wujudul hilal-nya.

Resikonya sama saja. Jika Muhammadiyah benar, maka ada jutaan orang yang shaum di hari raya, yang hukumnya Haram. Jika pemerintah benar, ada jutaan orang lainnya yang tidak shaum sehari di bulan Ramadhan. Padahal, meninggalkan shaum sehari saja, tidak bisa diganti oleh shaum yang dilakukan sepanjang tahun. Tidak mungkin keduanya benar, mesti ada salah satu yang salah. Oleh karena itu, perkara ini memang bukan perkara yang mudah dan main-main. Menyadari hal inilah, saya kemudian merasa agak 'menyesal' juga jadi tahu ilmunya meskipun sedikit, sebab itu berati saya tidak bisa lagi asal ikut-ikutan.

Saya selalu meyakini bahwa ilmu pengetahuan dan syariat itu tidak mungkin bertentangan. Keduanya saling mengisi atau saling menguatkan. Itu lah yang sesungguhnya terjadi dengan hisab dan hilal. Dengan hisab, kita bisa mengetahui kapan sesungguhnya hilal bisa terlihat. Perbedaan keputusan yang terjadi saat ini sesungguhnya karena perbedaan kriteria antara sesama pengguna hisab saja. Padahal, prediksi mengenai kapan terjadinya gerhana bulan atau matahari, tidak pernah meleset. Jika ingin mengetahui kapan terjadinya gerhana, tanyakan saja pada ahli hisab! Bagaimana bisa meleset jika mataharinya itu-itu juga, bulannya itu-itu juga, planet-planetnya yang itu-itu juga, pergerakannya dari hari ke hari, ya begitu-begitu saja. Dengan bantuan hisab pula saya meyakini bahwa sebagian umat Islam yang melakukan shalat ied pada hari Kamis(11/10/07), diantaranya kelompok An-Nadzim di Gorontalo dan Tariqat Naqsabandiyah di Padang, sudah melakukan kesalahan.

Singkatnya, setelah mendengar keputusan sidang Isbath Departemen Agama di televisi, seluruh keluarga menyepakati untuk berlebaran hari Sabtu, meskipun saya pun tahu bahwa ibu sesungguhnya merasa tidak nyaman dengan keputusan itu. Begitu juga adik bungsu saya yang uring-uringan, karena baginya, itu berarti dia harus shaum sehari lagi, padahal dia sudah malas shaum dan ingin segera berlebaran. Ah, dasar, alasan yang tidak ilmiah. Hanya saya, ayah dan adik perempuan saya yang cukup mantap dengan keputusan itu.

Seperti biasa, menjelang shubuh, ibu menyiapkan sahur, sebuah pertanda bahwa keluarga kami akan melaksanakan shaum sehari lagi. Dalam bayangan saya, keluarga kami akan shaum hari itu. Nyatanya tidak demikian. Setelah shalat shubuh, ibu memohon ijin untuk pergi ke pasar bersama kakaknya. Sementara saya, karena tidak tidur semalaman gara-gara 'berantem' dengan puluhan nyamuk, memutuskan untuk tidur 1 jam kemudian. Setelah itu, saya tidak tahu apa yang terjadi.

Saya terbangun sekitar pukul 10 karena suasana rumah yang rasanya lebih ramai daripada biasanya. Ternyata sanak keluarga dari pihak ibu yang memang tinggalnya berdekatan sedang berkumpul di rumah kami. Dan betapa terkejutnya saya ketika melihat adik bungsu saya sedang makan ketupat dan opor ayam kiriman dari uwak saya. Ternyata, ketika pergi ke pasar bersama kakaknya, ibu mendapati bahwa di lapangan Sempur Bogor ramai oleh orang yang akan melakukan shalat ied hari itu. Karena saya tahu ibu merasa tidak nyaman berpuasa hari itu, saya cukup memahami keputusannya untuk mengikuti shalat ied hari itu. Lalu bagaimana dengan adik bungsu saya? Setelah mendapatkan penjelasan tentang hari tasyrik atau 'hari yang meragukan' dari paman saya yang lulusan Gontor, adik saya sangat senang, karena itu dia cukup mantap untuk membatalkan shaumnya. Atau bisa dikatakan dengan sangat bahagia melakukannya. Sementara ayah saya pun pada akhirnya menuruti paman saya tersebut dan membatalkan shaumnya juga.

Saya pun sempat merasakan kebimbangan yang sangat antara membatalkan atau melanjutkan shaum, karena saya pun mengetahui perihal 'hari yang meragukan' itu. Rasulullah pernah memerintahkan untuk tidak melakukan shaum di hari-hari yang dianggap meragukan. Namun, setelah meyakinkan diri, saya tetap melanjutkan shaum, begitu pula adik perempuan saya. Maka, jadilah lebaran kali ini sebagai lebaran yang paling berantakan bagi keluarga saya, sekaligus lucu, karena saya sendiri malah ingin tertawa ketika mengalami hal tersebut. Dipikir-pikir, memang lucu, barangkali hanya keluarga saya saja yang mengalami kejadian semacam itu dan tidak menjadikan pengalaman itu sebagai suatu masalah yang besar. Ibu tidak memaksa kami untuk berlebaran hari itu, begitu pula saya pun memahami kegelisahan ibu, atau adik bungsu saya yang mendapatkan 'alasan yang tepat' untuk membatalkan shaumnya, semuanya saling menghargai dan menghormati keputusan yang diambil. Barangkali dalam pikiran kedua orang tua saya, "toh, kalian sudah besar...apa yang kalian lakukan akan menjadi tanggung jawab kalian sendiri."

Kenyataannya, bagi kami, lebaran kapan pun sama saja, yang penting kami bisa berkumpul dan bersilaturahmi hari itu. Kadang-kadang makanan pun seadanya. Seadanya dalam arti yang sesungguhnya, karena saya sendiri pernah mengalami berlebaran hanya makan mie instan, karena memang itu yang ada. Tidak ada ketupat atau opor ayam atau pun makanan-makanan ringan khas lebaran. Dan sudah sejak lama saya tidak pernah membeli baju baru di hari lebaran. Jangankan lebaran, di hari lain pun sudah lama saya tidak membeli pakaian baru. Pakaian yang saya gunakan untuk shalat ied yang lalu pun merupakan pakaian pinjaman dari ayah saya. Barangkali, bisa juga diartikan sebagai bentuk protes saya terhadap tradisi yang selama ini melekat.

Bagi saya sendiri, saya mencoba memahami lebaran dari esensinya. Hari kemenangan. Hari bagi mereka yang berhasil menundukan dirinya dari penguasaan hawa nafsu. Tidak makan, minum dan melakukan hubungan seks di siang hari, baru tahap yang paling mudah untuk dilakukan. (Eh, ralat, saya tidak tahu apakah menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seks di siang hari itu mudah atau tidak, belum pengalaman soalnya). Akan tetapi, Ramadhan yang lalu mengajarkan saya bahwa sesungguhnya ada hal yang lebih penting untuk dilakukan. Mengendalikan hawa nafsu. Dan saya menyadari betul sudah berkali-kali terjerumus untuk memuaskan hawa nafsu tersebut, bahkan di bulan Ramadhan sekali pun. Lalu apa hak saya 'berpesta' di hari kemenangan itu jika saya sendiri termasuk orang-orang yang kalah?

Saya tidak menyalahkan siapa pun perihal 'kekacauan' lebaran yang telah lalu atau pun yang mungkin akan terjadi di masa mendatang. Tidak Muhammadiyah, tidak pemerintah, tidak NU atau PERSIS. Bagaimana pun, mereka sudah berusaha untuk melakukan tugasnya dengan baik dan dilakukan dengan cara yang sesuai dengan ketentuan syariat. Saya menilai semua itu sebagai proses yang mungkin masih cukup panjang untuk dilalui sebelum akhirnya mencapai kata sepakat. Saya pun bersyukur mengetahui perihal niat baik mereka untuk berdialog satu sama lain, yang sudah berkali-kali dilakukan, meskipun belum mencapai kata sepakat.

Barangkali yang patut disalahkan adalah kita, sebagian besar umat Islam, yang sudah berkali-kali mengalami perbedaan hari lebaran, tapi masih masa bodoh dan membiarkan dirinya untuk tidak mau tahu-menahu perihal ilmu-ilmu yang berkaitan dengan shaum atau lebaran tersebut. Dan ketika perbedaan itu terjadi lagi, kita hanya bisa mengeluh, menyalahkan dan memaki 'Aduuh, lebarannya kenapa beda lagi sih? nggak rame kan?' Untungnya, lebaran memang bukan untuk orang-orang yang menginginkan 'keramaian', tapi untuk mereka yang berhasil mengendalikan hawa nafsu dan menjadikan dirinya lebih takwa.

Akan tetapi, dari pengalaman lebaran yang lalu, untuk selanjutnya saya memilih untuk 'rujuk' kembali dengan Muhammadiyah. Karena ternyata, kejadian hari itu malah menyulitkan saya dan keluarga dalam menjalani shaum atau pun lebaran dengan khusyu. Ada perasaan ragu-ragu dan was-was, padahal sesungguhnya Islam mengajarkan untuk meninggalkan sesuatu yang meragukan. Barangkali, itulah sebabnya Allah melalui Rasulullah memerintahkan untuk tidak shaum di hari yang meragukan, karena ternyata memang menyulitkan bagi yang menjalaninya. Maha Suci Allah. Setelah kejadian itu, saya hanya berharap semoga Allah mengampuni kesalahan yang mungkin saya dan keluarga saya lakukan. Amiin.

S 3 K 3 L 0 4. 311007. 02.02.

Labels: ,

Posted At Tuesday, July 17, 2007

Belajar dari Ilalang
Jika perjuangan yang kita hadapi dapat kita ibaratkan membabat ilalang ribuan hektar, sedangkan kita hanya punya sebilah pisau, lakukanlah itu! Jangan menunggu engkau punya traktor. Gunakanlah pisau itu sebaik-baiknya dan tunjukkanlah kepada Allah bahwa engkau sungguh-sungguh dalam bekerja. Mungkin, ketika engkau membabat ilalang dengan pisau seperti itu, hasilnya hanya beberapa meter dalam sehari. Engkau babat depannya, lusa ilalang di belakangmu tumbuh kembali. Engkau babat yang belakang, yang depan tumbuh pula. Lalu, ketika engkau babat yang kiri, yang di sebelah kanan merimbun lagi, dan jika engkau babat yang kanan, yang kiri tumbuh menjadi. Namun, apa pun hasilnya, kerjakanlah! Sebab, saat itu, Allah yang Maha Tahu sedang melihatmu. Jika Dia melihatmu bersungguh-sungguh menggunakan pisaumu, esok atau lusa, Dia akan memberimu golok. Gunakanlah golokmu sebaik-baiknya, dan bersungguh-sungguhlah dalam bekerja. Sebab, jika engkau sudah pandai menggunakan golok, kapan-kapan Allah akan memberimu traktor. Jika sudah begitu, apa yang tidak dapat kamu lakukan?


Kutipan di atas saya dapatkan dari buku Pelangi Islami 1, terbitan Khazanah Intelektual, yang merupakan kumpulan artikel dari Dr. Afif Muhammad, MA. Judul tulisan ini pun sengaja saya ambil dari judul yang sama dengan salah satu artikel tersebut. Beliau pun mengutipnya dari 'Allamah Abul A'la Maududi, salah seorang ulama terdahulu. Bukan tanpa alasan saya mengutip nasihat tersebut. Sejujurnya, saya merasa nasihat itu ditujukan kepada saya secara langsung. Nasihat semacam ini, sekali lagi, berhasil 'menampar' secara telak untuk menyadarkan saya agar tidak selalu mengeluh dalam bekerja.

Seringkali, dalam melakukan sesuatu, muncul bermacam pikiran yang 'mengeluhkan' kondisi saat ini.
"Ah, andai aku punya laptop, mungkin kerjaku akan maksimal..."
"Kalau gua punya kamera DSLR, gua yakin foto-foto yang gua ambil bakalan lebih bagus..."
"Gara-gara nggak punya motor nih...gua kejebak macet melulu, jadi aja telat terus..."
Dan bermacam-macam 'keluhan' sejenis. Padahal, ketika kemudian apa yang kita inginkan itu kita miliki, seringkali tidak mengubah keadaan. Kalaupun ada, tidak banyak, karena permasalahan yang sebenarnya adalah mental kita.

Dalam salah satu ceramahnya, Ustadz Dudi Muttaqien pernah mendefinisikan tentang rasa syukur. Orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang yang menerima atau ridha dengan apa yang dimilikinya, dan menggunakannya secara optimal. Dengan mengoptimalkan apa yang ada, diharapkan akan memberikan manfaat bagi dirinya, keluarganya dan syukur-syukur bisa untuk orang lain. Itulah yang kemudian disebut dengan barakah. Betapa agungnya nilai rasa syukur, sehingga Islam menempatkan syukur sebagai salah satu pintu masuk ke dalam surga. Dan satu lagi pintu bagi orang-orang yang bersabar. Sepemahaman saya, syukur dan sabar merupakan sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Jika sikap sabar membentuk orang-orang yang selalu bersemangat dan pantang menyerah dalam hidup, maka sikap syukur akan membentuk orang-orang yang selalu ridha dengan hasil akhir yang didapatkan, baik atau pun buruk hasil usahanya tersebut. Kedua sikap inilah yang kurang muncul dalam diri kita pada umumnya, terutama di Indonesia. Dari sini, bisa ditarik kesimpulan bahwa barakah-nya sesuatu (ilmu, uang atau harta benda) berbanding lurus dengan sikap sabar dan rasa syukur.

Kutipan di atas pun secara tidak langsung menasehati kita untuk selalu bersabar dan bersyukur. Kita punya pisau, syukurilah itu! Kita punya komputer, syukurilah! Kita punya motor, syukurilah! Gunakanlah sebaik-baiknya untuk membantu pekerjaanmu, kemudian bersabarlah dengan apa yang kamu kerjakan! Suatu saat, mungkin ada orang yang melihat baiknya pekerjaan yang kita lakukan dan 'jatuh cinta' pada karya kita, sehingga tidak segan-segan untuk 'menghargai' kita atau karya kita dengan 'bayaran' yang tinggi. Bukan tidak mungkin pada akhirnya kita memiliki golok, laptop atau mobil, bahkan ketiga-tiganya sekaligus. Semuanya berawal dari sikap sabar dan syukur yang tertanam dalam diri kita. Inilah sikap mental yang wajib kita miliki, karena dengan kedua sikap inilah kita bisa survive.

Namun, bukan pula hal yang mudah untuk menjadikan sabar dan syukur sebagai karakter diri kita. Perlu latihan yang terus menerus, dan kita pun dituntut untuk sabar dengan latihan tersebut. Memang luar biasa perjuangan untuk bisa 'berhasil' dalam hidup, dan sedikit yang bisa bertahan dalam tempaan kehidupan, karenanya hanya sedikit orang yang benar-benar bisa disebut 'berhasil' dalam hidupnya. Dan saya selalu berusaha untuk menjadi bagian dari orang-orang yang sedikit itu.

Terus terang saja, saya 'terlambat' memahami syukur dan sabar. Saya benar-benar disadarkan atas pentingnya rasa syukur setelah memutuskan resign dari pekerjaan saya dahulu. Akan tetapi, karenanya saya juga mendapatkan pelajaran tentang kesabaran dari orang-orang yang berinteraksi dengan saya belakangan ini. Dan kini, tibalah pada bagian terberat dari semuanya...menghayati. Hayat berarti hidup, menghayati berarti menghidupkan. Dan menghidupkan, bukan hanya 'memikirkan' atau 'menangkap' makna yang terkandung di dalamnya...tapi melakukannya, mengamalkan, implementasi, aksi. Sebab tanpa aksi, apa yang bisa kita buktikan?

S 3 K 3 L 0 4. 170707. 3:08.

Tulisan sejenis : Istiqamah Kuadrat

Labels: ,

Posted At Saturday, May 05, 2007

Alastu Birobbikum?
Tulisan kali ini adalah sebuah penepatan janji terhadap Opie yang sudah lama sekali terbengkalai. Dia meminta saya untuk membahas tentang apakah setiap orang adalah muslim sejak lahir? Kira-kira begitu pertanyaannya. Sebetulnya saya heran juga, yang lulusan pesantren itu siapa sih Pie? Saya atau kamu? ;)) Seharusnya kan saya yang banyak nanya sama dirimu tentang masalah-masalah Agama, kumaha ieu teh? Aya-aya wae...(pake logatnya Jarwo di Republik Mimpi) :D

Saya kira tulisan kali ini tidak akan terlalu panjang, soalnya dalam perspektif Islam sudah jelas. Ayat Qur'an nya jelas, Haditsnya juga Sahih. Dalam Al-A'Raaf:172, Allah berfirman :

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Al-A'raaf:172)


Dalam ayat 172, pertanyaan "Alastu Birobbikum (Bukankah Aku Tuhanmu?)" dilakukan sebelum manusia lahir dan ditanyakan kepada keturunan anak-anak Adam (manusia). Itu artinya, pertanyaan tersebut ditanyakan kepada seluruh manusia. Sejak zaman Adam, hingga kiamat nanti. Dan seluruh manusia menjawab: "Balaa, Syahidnaa (Betul, kami menjadi saksi)". Itulah syahadat pertama manusia. Kapan dan di mana? Wallahualam. Dalam buku ESQ, Ary Ginanjar Agustian menyebut kejadian tersebut dengan istilah "Anggukan Universal". Maka, ketika manusia lahir, fitrahnya adalah seorang Muslim. Kita memang tidak bisa mengingat kejadian tersebut, oleh karena itu Allah mengingatkan melalui Al-A'raaf:172. Memilih percaya atau tidak, itu adalah bagian dari keimanan kita.

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa setiap bayi terlahir sebagai Muslim, orangtuanya lah yang menjadikan anak tersebut menjadi Nasrani, Yahudi atau Majusi. Kalau boleh saya tambahkan, termasuk Agama-agama lain juga. Dengan adanya keterangan Hadits tersebut, semakin menguatkan isi dari 'Al-Araaf:172.

Mungkin, kita pernah mendapatkan pertanyaan : "jika orang yang non-muslim masuk Islam harus melakukan syahadat, trus yang terlahir dari keluarga muslim, kapan syahadatnya?". Sebetulnya, Al-A'raaf:172 dan hadits di atas sudah menjawab pertanyaan tersebut. Intinya, semua orang adalah muslim pada mulanya. Jika Islam dianalogikan sebagai rumah, syahadat adalah pintu masuk ke dalam rumah tersebut. Jika orang-orang dari luar rumah tersebut ingin masuk ke dalam rumah, etikanya tentu harus mengetuk pintu dulu agar dibukakan dan bisa masuk ke dalam rumah. Nah, jika muslim adalah penghuni rumah tersebut, apa perlunya mengetuk pintu rumah tersebut? Mengucapkan syahadat diperlukan untuk orang-orang yang 'keluar' dari Islam, jika sejak lahir kita di dalam Islam, untuk apa lagi kita mengucapkan syahadat? Kita kan tidak pernah keluar dari rumah tersebut, tentu aneh kalau kemudian kita harus mengetuk pintu. Bedakan antara syahadat dan mengucapkan syahadat. Syahadat adalah pintu, batas antara muslim dan non-muslim. Sedangkan mengucapkan syahadat adalah mengetuk pintu, jika mengetuknya benar, pintu akan terbuka, dan orang-orang di dalamnya akan selalu menyambut dengan senang hati.

Sebetulnya yang paling menarik adalah tujuan dari diingatkannya kejadian tersebut oleh Allah.
Agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?" (Al-A'raaf:173)


Argumen yang bisa dimengerti, namun ternyata tidak berarti dihadapan Allah. Karena apa? Karena manusia memiliki akal yang bisa digunakan untuk mengetahui kebenaran. Kecuali tidak ada satu pun informasi mengenai Islam atau tidak mendengar tentang Islam sama sekali, masalahnya lain lagi. Dalam sejarah Islam, Salman dikenal sebagai seorang pencari kebenaran sejati yang berpetualang jauh ke luar kampung halamannya. Meskipun orangtuanya Majusi, tapi dia 'tidak puas' dengan agamanya itu. Maka dicarilah kebenaran itu. Sehingga akhirnya dia menemukan Islam, dan meninggal dalam pelukan Islam. Jadi, terlahir sebagai anak dari orangtua yang non-muslim, tidak bisa dijadikan alasan untuk lepas dari hukuman. Makanya, terlahir sebagai muslim adalah sesuatu yang sangat saya syukuri.

Maaf kalau bahasan tentang ini kurang mendalam, hanya itu yang terpikir oleh saya. Mungkin karena bagi saya masalah ini sudah cukup jelas (atau kurang bahan) :D. Wallahualam.

S 3 k 3 l 0 4. 010507. 00.40.

Labels: ,

Copyright © 2006 Bom Bye
Design : Donny Reza