Psycho Avatar

Posted At Friday, December 21, 2007

Parah

Aduh, kenapa ya? Rasa-rasanya belakangan ini saya sedang berada di titik nadir kehidupan saya. Perasaan inferior yang terlalu berlebihan, sering tulalit kalau mengobrol, tidak fokus dengan apa yang saya lakukan, ketinggalan cerita dan informasi. Walhasil, saya merasa seperti hidup di dalam tempurung saja. Dunia berjalan terasa sangat cepat, tapi kemajuan yang saya dapatkan dalam diri terasa sangat lambat…bahkan terasa terlampau lambat. Jadinya tertinggal jauh, jauuuhhh sekali. Ini yang saya rasakan sekarang.

Perasaan dikejar-kejar oleh sesuatu, entah apa itu, yang jelas membuat apa pun yang saya kerjakan jadi tidak beres, berantakan. Tidak bisa menikmati proses, inginnya serba cepat dan instant. Bawaannya jadi malas, sangat malas. Parahnya, semua terjadi dalam berbagai aspek kehidupan saya. Kondisi intelektualitas, kondisi ruhiyah, kondisi jasmani…saya merasa jadi orang yang paling ’sakit’ sekarang ini. Oleh karenanya, pencapaian-pencapaian yang didapatkan tidak sesuai dengan target yang saya inginkan.

Seringnya pikiran ini mengawang-awang, entah kemana dan entah apa yang saya pikirkan. Akhirnya, saya jadi tulalit kalau sedang mengobrol dengan orang lain, karena sering juga pikiran saya itu mengawang-awang di tengah-tengah orang banyak. Jadi malu sendiri dan jadi merasa sangat bodoh. Merasa bukan seperti saya yang sebenarnya, ada yang hilang rasanya, bahkan terasa banyak sekali yang hilang.

Tidak ada kemajuan yang berarti dalam skill saya, entah itu programming, networking, public speaking, leadership atau manajemen diri dan waktu. Malah semakin menurun. Barangkali itu yang membuat saya jadi merasa seperti manusia yang inferior dan tidak PD ketika bertemu dengan siapa pun. Menyedihkan sekali jadi manusia seperti ini.

Rasanya sudah banyak sekali apa yang saya baca, tapi ternyata tidak membuat saya semakin cerdas atau semakin tahu. Barangkali ada yang salah dengan apa yang saya baca atau cara saya membaca. Entahlah.

Jadi sering lupa. Pernah suatu hari saya janjian dengan seorang teman, dan saya lupa sama sekali. Sampai satu jam dari jadwal janjian, saya diingatkan melalui SMS. Ya, ampun. Dan selama satu jam itu, saya hanya sedang diam di kamar saya…tidak melakukan apa pun, hanya bengong tidak jelas. Untungnya teman tersebut masih mau menunggu dan pada akhirnya bertemu juga, tentunya dengan perasaan menyesal dan malu.

Meskipun, kadang-kadang saya juga merasa tidak percaya kalau saya masih sanggup untuk hanya tidur 1 jam sehari, setelah sebelumnya melakukan aktivitas-aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran secara beruntun dan berpindah-pindah tempat. Atau ketika mata ini tidak merasa lelah selama 18 jam di depan komputer tanpa henti.

Kalau dalam tulisan ini tidak ditemukan nada-nada optimis, maklumi saja, namanya juga sedang curhat. Sebetulnya dengan menuliskan ini, saya juga sedang melakukan identifikasi terhadap sumber masalah yang saya hadapi. Barangkali dengan menuliskannya, saya bisa merancang perbaikan-perbaikan di hari-hari selanjutnya. Dan saya berjanji untuk melakukan perbaikan-perbaikan itu. Setahap demi setahap, langkah demi langkah…Sampai akhirnya tiba di anak tangga terakhir atau di puncak tertinggi hidup saya.

So, please, help me…!!

Bandung. 211207. 14.30.

Labels: ,

Posted At Tuesday, December 18, 2007

Lagi Narsis

A : “Kamu dulu kenapa bisa kena demam berdarah?

B : “Barangkali karena saya terlalu ganteng, jadinya kelihatan menarik bagi nyamuk-nyamuk betina yang doyan nyedot darah.

:)

C 1 H 3 U L 4 17 6. 181207. 02.45

Labels:

Posted At Tuesday, December 11, 2007

Sok Bijak

Saya baru ingat kalau saya pernah berkomentar di blognya Oci yang lama, yang kemudian di re-post di blognya yang baru. Isinya seperti ini:

Sebetulnya, seni dalam hidup adalah ketika kita pernah berbuat kesalahan, melakukan dosa, dan bertindak bodoh. Dan moment-moment yang telah terjadi adalah sebuah catatan dalam hidup kita, maka ketika kita membaca catatan tersebut, kita jadi ingat tentang kesalahan-kesalahan kita. Dan itu menjadi sebuah kontrol dalam hidup kita agar tidak pernah melakukan hal yang sama lagi.

Serasa nggak percaya kalau pernah menulis kata-kata seperti itu :D

Labels:

Posted At Monday, December 10, 2007

Mitos Sialan

Ah, masih saja terjadi. Di zaman internet sudah menjadi sebuah kebutuhan seperti sekarang ini, sebuah pernikahan harus ditentukan oleh ‘hitung-hitungan’ sang kyai dukun. Meskipun katanya seorang kyai, saya lebih suka menyebutnya dukun.

Pagi ini teman saya uring-uringan. Hubungan yang sudah terbina cukup lama dengan sang calon, terancam gagal gara-gara setelah bertanya pada sang dukun, kedua nama mereka dalam hitungan sang dukun tersebut tidak baik jika disandingkan. Jadilah teman saya tersebut hampir putus asa. Dia merasa, sama saja bohong usaha selama ini, kalau pada akhirnya harus ditentukan oleh hitung-hitungan tidak logis semacam itu. Kenapa tidak sejak pertama saja? Ya, saya memahami kegelisahan dan kemarahannya.

Sebagai seorang teman yang dimintai saran dan pertimbangan, saya pun memberikan beberapa saran dan pandangan saya soal masalah tersebut. Memang mengkhawatirkan dan menggelikan masalah semacam itu. Sampai saya harus mengatakan, “bilang saja sama dia, kamu dan keluarga juga sudah melakukan perhitungan, tapi hasilnya baik-baik saja, nggak ada masalah. Jadi, yang goblok kyai-nya siapa kalau begitu? Mesti salah satu yang bener. Kalau nggak, berarti dua-duanya goblok!“ Teman saya sampai tertawa dan malah meng-iya-kan saran saya tersebut.

Lebih mengkhawatirkan lagi setelah mengetahui latar belakang keluarga calon teman saya itu. Sang calon sendiri seorang sarjana, kakaknya seorang Guru Besar di sebuah Universitas Negeri di Kota Bandung. Keluarganya golongan berada. Ini tentu sebuah ironi atau bahkan tragedi. Hasil pendidikan bertahun-tahun tidak menjadikan pikirannya rasional. Namun, realita juga membuktikan, banyak sarjana, master dan doktor yang masih saja percaya dukun dari pada percaya diri. Sayang sekali. Bagaimana Indonesia bisa maju ya?

Akan tetapi, status kyai yang disandang sang dukun membuat saya lebih merasa khawatir lagi. Konon sang dukun juga punya pesantren. “Jangan-jangan santrinya juga tukang hitung-hitungan ya?“, seru teman saya dan bikin kami berdua terbahak-bahak. Seorang kyai yang semestinya mengajarkan kelurusan aqidah malah mengajarkan sebuah kesesatan dan menjadi panutan pula. Dan kita bisa mendapati orang-orang semacam ini dengan sangat mudah di sekitar kita.

Sejak kecil, Alhamdulillah, saya dianugerahi pikiran yang rasional. Sehingga sering saya merasa heran, kenapa orang-orang harus datang ke dukun? Kenapa adik tidak boleh mendahului kakaknya kalau menikah? Kenapa kalau salah satu keluarga saya mengadakan pesta rumahnya selalu bau kemenyan? Kenapa juga harus ada hari baik dan tidak baik? Kenapa harus ada tahlilan? Atau bahkan soal mitos-mitos yang beredar di masyarakat. Pada akhirnya, saya tumbuh jadi pemberontak terhadap hal-hal semacam itu.

Meskipun sebagian mitos tersebut membawa ajaran Islam, namun ternyata Islam yang saya pelajari tidak pernah mengajarkan hal-hal semacam itu. Islam yang saya pelajari adalah Islam yang rasional. Soal pernikahan saja, Islam mengajarkan untuk menyegerakan jika dirasa sudah mampu. Tidak menjadi soal apakah ketika menikah kakaknya didahului atau tidak. Jika pernikahan itu sebuah ibadah, masa iya sebuah ibadah harus dihalang-halangi gara-gara sesuatu hal yang konyol dan tidak terbukti kebenarannya? Bahkan, saya sering sekali mengutip ucapan seorang ustadz, “lahir sih boleh kakak duluan, tapi kalo soal jodoh juga harus kakak duluan, berarti mati juga harus kakak duluan dong…

Soal larangan mendahului kakak ini, saya menyaksikan betapa salah seorang teman perempuan saya sangat tersiksa gara-gara sang pacar belum juga mau melamar karena kakak perempuannya belum menikah. Sialnya, sang kakak ini juga tidak tahu diri, dia terus saja mencari calon yang dirasa cocok dan tidak mengijinkan adiknya untuk mendahului. Ditambah lagi dengan pola pikir keluarganya yang ‘kolot’, semakin lengkaplah penderitaan teman saya ini. Akhirnya, putus juga. Kadang-kadang saya senewen sendiri mendengar kasus-kasus semacam ini.

Belum lagi soal perhitungan hari baik yang ternyata hasil perhitungannya pun menggelikan. Bagaimana tidak menggelikan juga suatu pesta pernikahan diadakan di hari kerja? Konon jika menikah di hari yang ditentukan itu, sebuah pernikahan akan langgeng dan membawa kebahagiaan. Ini tentunya merepotkan undangan dan keluarga pengantin sendiri karena bukan waktu yang tepat. Bagi saya, semua hari berpotensi untuk memiliki kebaikan. Rumus hari pernikahan bagi saya dan beberapa orang teman adalah…”adakan pernikahan di hari sabtu/minggu, dan di awal bulan!” Karena awal bulan adalah saat-saat gajian, dan kalau pun harus menyumbang, tidak dirasa memberatkan.

Kebanyakan anak-anak muda sekarang mungkin sudah tidak lagi peduli dan memikirkan hal-hal semacam ini. Akan tetapi, generasi orang tua masih sangat banyak yang menganggap hal semacam ini penting. Untungnya orang tua saya tidak seperti itu. Perlu diakui, masih agak sulit melepas mitos-mitos semacam itu. Indonesia adalah sebuah negara yang kebudayaannya sebagian besar dibangun oleh mitos. Maka, hampir di setiap tempat di seluruh Indonesia, kita mendapati mitos daerahnya sendiri-sendiri. Saya sendiri sering merasa khawatir jika suatu saat dipertemukan dengan calon mertua yang seperti itu. Saya hanya merasa khawatir tidak mampu bersikap bijaksana, itu saja.

Hidup ini terlalu serba tidak pasti untuk diramal. Toh, kyai, paranormal atau pun dukun-dukun itu pun belum tentu berbahagia dengan hidupnya. Belum tentu juga dia bisa meramalkan nasibnya sendiri, apalagi nasib orang lain. Masa iya kita harus percaya pada mereka yang tidak tahu menahu tentang nasibnya sendiri?

C 1 H 3 U L 4 17 6. 101207. 03.08

NB: Agak kurang sreg dengan judulnya :D

Labels: , ,

Posted At Monday, December 03, 2007

Dunia di Pinggir Lapang

Lari di Sabuga (Sasana Budaya Ganesha), meskipun tidak serutin dulu lagi, tetap merupakan aktivitas favorit saya. Sabuga merupakan salah satu tempat pelarian saya ketika kepala sudah terasa sangat penat atau ketika sedih, marah dan ketika hati merasa terganggu. Berlari, sampai batas terlelah fisik, sampai tidak sanggup untuk berlari lagi, sampai kepayahan bernafas, sampai akhirnya terduduk lemas di pinggiran track lari tersebut.

Setelah lelah, saya biasanya beristirahat di pinggir lapangan, dan mengamati…segala macam. Jika pagi, saya duduk di sekitaran jalan masuk karena memang tempatnya teduh. Sementara jika sore, saya biasanya duduk di rumput-rumput dan bersandar pada pagar. Bisa 1 jam, bahkan lebih, ketika melakukan aktivitas ini, lebih lama daripada larinya. Masih banyaknya pohon-pohon di sekitar Sabuga semakin membuat saya betah berlama-lama, bahkan jika sore hari, saya pernah melakukannya sampai tempat itu akan ditutup. Kalau pagi hari, apalagi di hari Sabtu atau Minggu yang biasanya sangat ramai, saya sering melakukan aktivitas ini sampai lintasan lari benar-benar sepi.

Sejujurnya, kegiatan ‘beristirahat’ inilah yang paling saya sukai. Tersenyum sendiri menyaksikan bagaimana bayi belajar berlari atau mengikuti tingkah polahnya. Terperangah sendiri ketika menyaksikan wanita-wanita yang salah kostum. Terkagum-kagum menyaksikan seorang kakek masih sanggup mengelilingi lapangan Sabuga dengan jumlah keliling dan waktu yang lebih lama dari kebanyakan pemuda yang berlari di sana. Iri dengan mereka yang bermain sepak bola, sementara saya hanya menonton. Mengawasi wanita cantik yang belum tentu setiap saat bisa kita lihat :D. Ratusan wajah yang selalu baru dan betapa herannya saya karena tidak satu pun yang saya kenal. Namun, lebih dari itu, saya banyak melakukan kontemplasi dan melamun di tengah-tengah keramaian itu.

Entahlah. Ketika badan sudah terasa sangat lelah, saya bisa kembali berfikir jernih terhadap berbagai macam hal. Barangkali tempat yang luas memang berpengaruh terhadap kelapangan hati dan keluasan berfikir juga, dan itu sering saya rasakan ketika berisitirahat itu.

Ada banyak hal yang saya pikirkan. Nasib, rencana masa depan, ide-ide, merenung…macam-macam. Namun, hal tersebut hanya bisa saya lakukan ketika sendiri. Jika ada teman, saya tidak bisa melakukan itu, karena biasanya mereka mengajak pulang lebih cepat. Oleh sebab itulah, seringkali saya melakukannya sendirian. Bukan hanya lari saja, tapi hampir setiap aktivitas yang sifatnya ‘mengunjungi’ suatu tempat, saya memilih untuk sendirian. Saya sering tidak merasa enak ketika ingin berlama-lama di suatu tempat, sementara ada teman yang sudah ingin dan mengaajak pulang.

Setelah puas disibukan dengan ‘dunia sendiri’, dan ketika badan sudah pulih dari rasa lelah, biasanya saya masih ingin mengelilingi lintasan itu dengan berjalan kaki, sebelum akhirnya pulang. Dengan energi baru atau dengan cara pandang baru terhadap berbagai macam hal. Siap untuk menghadapi kejutan-kejutan yang masih akan selalu diberikan oleh dunia ini.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 031207. 02.50

Labels: ,

Posted At Tuesday, November 27, 2007

The Most Inspiring Love Story: Kabayan and Iteung

Kuatnya pengaruh film-film barat dan perasaan inferior yang sudah sangat kronis dari bangsa Indonesia, membuat kita silau akan segala hal yang berbau Barat. Termasuk juga dalam film dan cerita-cerita yang menjadi inspirasi. Dalam novel 5cm, yang pengarangnya memiliki nama depan sama dengan saya, tidak ditemukan satu pun film dari Indonesia yang menjadi inspirasi dari novel tersebut. Hampir seluruhnya Amerika punya. Padahal, menurut saya, ada film-film yang cukup menginspirasi.

Bagi saya, kisah cinta Kabayan dan Iteung lebih menginspirasi daripada kisah-kisah cinta yang pernah ada. Bukan Romeo and Juliet, tidak cerita Nabi Yusuf dan Zulaikha, tidak juga kisah cinta Fahri dan Aisha di Ayat-ayat cinta, atau Layla Majnun, apalagi cerita film Titanic. Romeo dan Juliet, entah kenapa saya malah menganggapnya sebagai kisah cinta paling bodoh yang pernah ada. Fahri dan Aisha, ah…terlalu sempurna, meskipun tidak mustahil ada laki-laki seperti Fahri di dunia ini.

Sebagai anak yang ditakdirkan sebagai suku Sunda, orang tua saya lebih dulu mengenalkan saya dengan cerita-cerita dari tanah sunda. Kabayan adalah salah satunya. Akan tetapi, gambaran sosok yang agak lebih utuh saya dapatkan ketika menonton film-film Kabayan yang diperankan dengan sangat baik oleh Didi Petet, bahkan lebih baik daripada Kang Ibing. Saya tidak tahu persis apakah sosok Kabayan memang seperti itu atau tidak, yang jelas peran Didi Petet sebagai Kabayan memang belum tergantikan sampai saat ini. Terus terang saja, saya cukup merindukan peran Didi Petet sebagai Kabayan lagi, hanya saja agak sulit untuk membuat -misalnya- film ‘Si Kabayan jadi 2′.

Dari film-film Kabayan itu, jadi lebih tergambar jelas bagaimana kisah cinta Kabayan dan Iteung. Itulah hebatnya media gambar bergerak. Serta bagaimana ‘benci’-nya si Abah terhadap Kabayan, tapi sesungguhnya sangat sayang kepada si Kabayan. Panggilan ‘borokokok’ adalah panggilan ’sayang’ si Abah untuk Kabayan, dan hanya dimiliki oleh si Kabayan. Jadi kalau suatu saat Malaysia mau mengklaim dan mempatenkan panggilan ‘borokokok’, harus berhadapan dulu dengan si Abah :D

Cinta si Kabayan juga tidak neko-neko, terlebih cinta si Iteung pada si Kabayan. Meskipun sudah beberapa kali didekati oleh pria-pria yang secara ekonomi jauh lebih baik dan masa depan yang lebih cerah daripada si Kabayan, Iteung tidak bergeming. Cinta-nya hanya untuk Kabayan, seorang lelaki pemalas yang teman setianya hanya kerbau dan dijamin tidak punya masa depan yang cerah. Bahkan ketika cinta-nya berusaha dihalang-halangi oleh Abah, yang merupakan ayah si Iteung, mereka berdua tidak pernah menyerah, bahkan mereka semakin cinta.

Kabayan adalah kombinasi spontanitas, keluguan, kecerdasan sekaligus ketulusan dan kepasrahan terhadap takdir. Sebenarnya, masih terjadi polemik apakah si Kabayan itu orang yang bodoh atau cerdas, tapi kalau saya cenderung mengatakan cerdas. Karena keluguannya, dia disukai orang-orang. Karena kecerdasannya, dia bisa survive menjalani hidup yang apa adanya dan bisa selamat dari berbagai ancaman, dan karena ketulusannya dia selalu menolong orang tanpa pamrih. Akan tetapi, karena ‘dilahirkan’ di tanah sunda, atribut tukang heureuy dan usil juga melekat pada diri si Kabayan.

Dalam ‘Si Kabayan Saba Kota‘, Kabayan menyusul ke kota Bandung yang baru sekali dipijaknya, berbekal alamat rumah temannya untuk disinggahi. Dalam ‘Si Kabayan Saba Metropolitan‘, dia menyusul Iteung ke Ibu Kota, Jakarta, tanpa satu pun orang yang dikenalnya. Bahkan harus dihukum push-up oleh polisi gara-gara salah tempat ketika menyeberang jalan. Dan dalam ‘Si Kabayan dan Anak Jin‘, dia menyusul ke Yogyakarta untuk menyelamatkan Iteung. Bukankah itu romantis?

Akan tetapi, Kabayan juga bukan sosok yang egois. Dia juga sosok yang realistis. Kecintaan Kabayan pada Iteung ternyata tidak membuatnya mengorbankan sesuatu yang lebih penting dan lebih besar. Dalam ‘Si Kabayan Saba Metropolitan‘ diceritakan Kabayan dipaksa untuk menjual tanah yang dimilikinya kepada para konglomerat. Bahkan, Kabayan diiming-imingi akan dinikahkan dengan Iteung jika dia bersedia menjual tanah tersebut. Kabayan sempat tergoda dan ‘terpaksa’ menyetujui untuk menjualnya, sebelum akhirnya memutuskan untuk membatalkannya dan meninggalkan Iteung serta Abah di Jakarta, sambil mencium tanah dan mengatakan “Pffuah…tanah di Kota mah tidak enak!! saya mah mau pulang saja, terserah Abah dan Iteung kalau mau menjual tanah milik abah mah“. Sebab, dengan menjual tanahnya kepada orang-orang kota, Kabayan tahu akan terjadi kerusakan di tanah yang dicintainya. Namun, pada akhirnya, Abah dan Iteung yang menyusul pulang dan menyesali perbuatannya.

Kecintaannya pada Iteung juga tidak membuat Kabayan mengumbar habis-habisan nafsunya, meskipun kesempatan itu ada. Dia menghormati Iteung, dan lebih dari itu, dia juga masih menghormati ‘keberadaan’ Tuhan. Tidak pernah diceritakan Kabayan dan Iteung bermesra-mesraan, apalagi mendapati cerita Kabayan berciuman dengan Iteung sebelum menikah. Cerita cinta ‘kan tidak berarti harus ada adegan ciuman, dan tidak ‘kering’ juga suatu film tanpa adegan ciuman. Sementara sekarang, sudah menjadi stereotip kalau film-film romantis harus ada adegan ciuman. Bahkan, meskipun sering, Kabayan dan Iteung masih saja malu-malu jika bertemu. Ini yang membuat saya gemas.

Film Kabayan lekat dalam ingatan saya karena selain kisah cintanya, juga karena terasa lebih dekat dengan kehidupan saya, dan mungkin kehidupan orang-orang Indonesia. Apalagi unsur budaya sunda-nya yang cukup kuat. Terlebih ketika digambarkan suasana pesawahan dengan background suling sunda, ‘asa waas‘ kalau kata orang sunda. Apalagi jika film ini ditonton di tanah perantauan…wuih, bisa bikin kangen habis-habisan. Sudah lama rasanya sineas perfilman Indonesia tidak mengangkat cerita-cerita semacam Kabayan yang mengangkat kearifan budaya setempat. Padahal, film juga bisa digunakan untuk menjaga kelestarian budaya bangsa Indonesia.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 271107. 23.30

Labels: ,

Posted At Monday, November 26, 2007

Total Football, Where Are You?
Jika bisa menyerang menggunakan Tank, untuk apa menggunakan tangan kosong?” (Rinus Michel)

Sebagai salah satu fans setia Timnas Belanda, terus terang saya merasa khawatir dengan kondisi permainan anak-anak asuh Marco van Basten sekarang. Kurang greget. Dari beberapa pertandingan terakhir yang saya saksikan, diantaranya melawan Romania dan Luxemburg, saya tidak mendapatkan militansi dari skuad orange. Bahkan ketika melawan Luxemburg yang secara kualitas jauh dari Belanda, hanya menang 1-0, di kandang pula. Dengan kondisi seperti itu, saya tidak yakin Belanda bisa sukses di Piala Eropa 2008.

Bahwa Belanda memiliki banyak pemain muda berbakat, ya…saya setuju. Akan tetapi, skill individu saja tidak cukup. Sebab sepak bola adalah olahraga tim. Betapa kesalnya saya ketika menyaksikan Piala Dunia 2006, Belanda ‘hanya’ mengandalkan Arjen Robben. Dan sekarang, ketika Arjen Robben terlalu sering bergelut dengan cedera, giliran Wesley Sneijder yang diandalkan. Memang masih ada pemain muda lain, seperti Rafael van der Vaart dan Robin van Persie, tapi mereka pun memiliki nasib yang sama dengan Robben, rentan cedera.

Sebagai kader dari Rinus Michel, founding father Total Football, Marco van Basten seakan tidak mampu menerapkan ilmunya kepada anak-anak asuhnya. Pemain sepak bola yang hebat, belum tentu menjadi pelatih yang hebat, itulah yang terjadi pada van Basten. Setiap bertanding, mereka selalu tampil monoton. Tidak ada lagi serangan-serangan yang mematikan dan variatif. Terakhir kali, ketika Piala Eropa 2000 saya menyaksikan Belanda tampil impresif, saat itu diasuh olah Frank Rijkaard, meskipun harus kalah adu penalti di semifinal dari Italia yang waktu itu tampil super-defensif. Setelah itu, hanya kegagalan yang menghampiri tim orange. Gagal total di Piala Dunia 2002, alias tidak masuk sama sekali untuk ikut serta di Piala Dunia 2002. Saking nge-fans nya, ketika ditanya, siapa yang akan juara di PD2002? Saya jawab, Belanda!! Padahal sudah tahu mereka tidak lulus dari babak kualifikasi. Ini sih sudah gila namanya :D Gagal juga di Piala Eropa 2004. Tersingkir di babak kedua pada saat Piala Dunia 2006.

Saya paling benci dengan tim-tim yang tampil defensif. Bagi saya tampil defensif sama saja dengan penakut, apalagi hanya mencari adu penalti seperti yang dilakukan Italia ketika melawan Belanda di semifinal Piala Eropa 2002. Arrrggghhh, malas sekali menontonnya. Saya paling suka dengan tim yang bermain terbuka, apalagi jika dalam suatu pertandingan, kedua tim bermain terbuka. Saling menyerang. Seperti Brazil vs Belanda di semifinal Piala Dunia 1998. Meskipun kalah, saya puas menontonnya. Bagi saya, yang penting bermain cantik, menghibur dan menarik untuk dinikmati. Sehingga, jika harus bela-belain begadang juga tidak merasa menyesal. Bermain defensif memang efektif, saaaangat efektif sekali untuk menghindari kekalahan, tapi ini merupakan sebuah ‘pembunuhan karakter’ sepak bola yang tujuannya mencetak gol.

Filosofi bermain cantik dan menyerang ini selalu saya terapkan ketika bermain Winning Eleven, Football Manager atau Championship Manager. Pokoknya menyerang habis-habisan, walaupun resiko dari sepak bola menyerang adalah kebobolan lebih banyak. Meskipun kalau ‘ngadu’ WE sama teman-teman, saya sering kalah, yang penting kalah terhormat dan kelihatan usahanya :D

Nah, persoalannya, filosofi bermain cantik ini sepertinya sudah mulai ditinggalkan oleh Belanda, setidaknya sejak dipegang oleh van Basten. Sehingga, wajar saja, jika setiap bertanding, mereka selalu tampil monoton dan membosankan. Wajar saja, jika setiap bertanding, selalu terdengar konser siul dari para penonton. Konser siul adalah sebuah ekspresi dari penonton yang menggambarkan bahwa “kalian bermain jelek sekali“, “kalian membosankan“, “apa yang kalian lakukan di lapangan? kami ingin menonton sepak bola, bukan sebuah pertunjukan drama…!!” dan ejekan-ejekan semacam itu.

Sialnya, di PD2006 tahun lalu, sepak bola menyerang yang saya dambakan justru diperagakan oleh Jerman yang merupakan musuh bebuyutan Belanda di setiap kompetisi. Belanda sendiri, lagi-lagi tampil monoton dan membosankan, sebelum akhirnya tersingkir di babak 16 besar. Saya sendiri sudah merasa khawatir akan seperti ini ketika para personil Piala Dunia 1998 semacam Dennis Bergkamp, Marc Overmars atau Edgar Davids sudah menurun performa-nya. Dan kekhawatiran saya ternyata terbukti.

Pada dasarnya Total Football mengharuskan keterlibatan seluruh pemain untuk melakukan penyerangan, kecuali kiper, tentu saja. Sebuah penyerangan sporadis, tanpa henti. Oleh sebab itu, Total Football menuntut pemain-pemain yang bisa bermain di berbagai macam posisi. Tujuannya, agar setiap pemain bisa saling mengisi posisi yang ditinggalkan temannya ketika menyerang. Paling tidak, seorang bek pun harus bisa dan berani menyerang jika dibutuhkan. Namun, Total Football juga membutuhkan peran seorang pengatur (playmaker). Peran ini pernah dilakukan dengan baik oleh Johan Cruijff dan Ruud Gullit. Rinus Michel sendiri pernah mengakui kalau strateginya tidak mungkin berjalan dengan baik tanpa peran pemain semacam Cruijff atau Gullit. Inilah masalah utama Belanda saat ini, tidak adanya sosok playmaker. Saat ini, ada van der Vaart yang diharapkan mampu untuk mengisi peran itu, tapi sayangnya dia masih belum matang dan belum mampu memimpin rekan-rekannya dengan baik. Perlu proses memang. Akan tetapi, mudah-mudahan Belanda bisa kembali mendapatkan formula terbaiknya di Piala Eropa 2008 nanti. Kita tunggu saja.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 261107. 03.09

Labels: ,

Posted At Saturday, November 24, 2007

Mengaji Yes, Teler OK!

Jika dibandingkan dengan para pengemis dalam tulisan sebelumnya, anak-anak jalanan barangkali lebih baik. Kemiskinan mereka lebih nyata, meskipun saya masih saja sangsi untuk memberi mereka uang. Itu yang saya lihat ketika untuk pertama kalinya saya datang untuk membantu teman-teman mengajari mereka membaca dan menulis di Pasar Ciroyom, Bandung. Karena kegiatan tersebut juga merupakan salah satu program kerja Divisi Dakwah dan Sosial, SSG Cibeunying, tentunya tidak hanya mengajari baca-tulis huruf latin saja, tapi juga mengaji, shalat atau nilai-nilai Islam.

Kondisinya jauh dari yang saya bayangkan daripada sebelum saya datang ke sana. Dalam bayangan saya, kegiatan dilakukan secara klasikal, ada papan tulis, ada kursi…ya, seperti ruangan kelas. Namun, ternyata tidak seperti itu. Kegiatan dilakukan di emperan masjid yang terletak di lantai 3 pasar Ciroyom, tanpa papan tulis, tanpa kursi…dilakukan sambil duduk. Teman-teman saya memang tidak menceritakan kondisi-nya seperti apa, jadi saya membayangkannya seperti itu.

Kegiatan tersebut rencananya akan dilakukan setiap hari Kamis, Jum’at dan Ahad dari pukul 16 - Maghrib. Rencana saya datang hari kamis batal karena tidak memungkinkan untuk tiba di sana sebelum maghrib. Saya datang hari berikutnya, itu pun dengan resiko mengganti shift kerja saya menjadi tengah malam.

Ketika saya datang ke sana, ada sekitar 25 orang anak-anak jalanan, mayoritas laki-laki. Hanya ada 3-4 orang wanita. Dengan range umur dari 7 tahun sampai 19 tahun. Mereka terbagi menjadi 3 kelompok, masing-masing kelompok ‘mengelilingi’ seorang calon bidadari surga mentor, yang semuanya perempuan. Dua orang adalah teman saya di SSG, yaitu Ayu dan Dewi, satu orang lagi…saya lupa berkenalan. Saya melihat pemandangan yang cukup kontras, meskipun ke-3 teman saya itu tidak dandan berlebihan, tapi sudah bisa menunjukan bahwa terdapat perbedaan kualitas hidup yang cukup jauh. Antara yang terawat dan tidak terawat.

Untungnya, sambutan mereka hangat sekali. Mereka langsung menyalami ketika Dewi memperkenalkan saya. Beberapa bahkan ada yang langsung dekat dengan saya. Kondisi tersebut membuat saya sedikit lebih bisa membuka diri. Saya langsung ditugasi untuk tes mengaji anak-anak tersebut dan membaginya ke dalam beberapa kelompok, berdasarkan buku Iqra. Padahal niat saya tadinya hanya melihat-lihat dulu situasi dan kondisi tempat tersebut. Dari obrolan dengan mereka, saya jadi tahu bahwa mereka pun sebelumnya pernah belajar mengaji. Tapi, sebagian besar lupa lagi karena tidak pernah mengaji lagi.

Ketika sedang melakukan aktivitas itu lah, saya menyadari satu hal. Hampir setiap saat, mereka menutupi hidung mereka dengan baju. Hal ini dilakukan oleh hampir semua anak-anak tersebut. Dan satu lagi yang membuat saya menyadari ada yang salah adalah…bau lem aibon! Oalah, jadi selama ini mereka belajar sambil ngelem. Entah apa yang ada di dalam imajinasi mereka ketika mengaji itu. Saya tidak terlalu mengerti. Dan sepertinya, akan sulit melepaskan mereka dari kebiasaan tersebut. Saya tidak tahu apakah mereka sadar atau tidak, yang jelas saat itu mereka tidak menunjukkan tanda-tanda sedang teler. Semuanya nampak biasa-biasa saja. Dan mereka pun shalat dalam keadaan seperti itu. Terus terang saja, entah karena pengaruh lem aibon itu atau bukan, yang jelas kepala saya terasa panas saat itu, terutama otak bagian belakang. Sementara teman-teman wanita saya itu tampak biasa-biasa saja, salut saya pada mereka.

Jika dibandingkan dengan saya, ketiga wanita tersebut nampak lebih mampu menangani anak-anak itu. Entahlah, barangkali karena jiwa keibuan mereka atau karena mereka sudah terlatih untuk menangani anak-anak. Sementara saya jarang sekali berhubungan dengan anak-anak dalam situasi semacam itu, apalagi anak-anak jalanan. Rasanya susah sekali mengatur mereka, tapi kepada teman-teman saya kok nurut-nurut saja.

Kotor sekali. Barangkali mereka berhari-hari tidak mandi, dan pakaian yang digunakan pun itu-itu saja. Kecuali anak-anak wanitanya yang terlihat lebih bersih. Ada yang berdandan ala punk, tapi sebagian besar rambut mereka berwarna kemerahan karena kurang gizi atau terlalu sering terkena matahari.

Atas saran dari Ayu, saya juga membawa makanan. Saya membawa 2 paket kue bolu yang harus dipotong-potong lagi. Alasan saya waktu itu karena tidak tahu pasti jumlah anak-anak yang ada di sana. Kalau jumlahnya sedikit, anak-anak itu akan kebagian kue bolu lebih banyak dan sebaliknya. Tadinya mau bawa kwaci atau sukro saja 2 bungkus yang kalau dibagikan pada 100 orang pun pasti kebagian :D

Lucu sekali memperhatikan mereka mengikut kemana kue itu pergi. Bahkan ketika saya diminta Dewi untuk memberikan nasihat atau cerita, mereka malah mengikuti Dewi dan meninggalkan saya sendirian, karena kue itu saya berikan kepada Dewi untuk dibagikan. Saya pun sempat tertawa-tawa melihatnya. Konon mereka selalu berebutan kalau dibagikan makanan, semuanya ingin mendapatkan yang pertama. Padahal sudah berkali-kali juga kami mengatakan bahwa mereka semua akan kebagian.

Setelah membagi-bagikan makanan, kegiatan pun berakhir. Kami saling janji untuk datang lagi pada hari minggu. Saya sendiri tidak tahu pasti apakah hari itu bisa datang atau tidak. Hanya saja, sepanjang jalan pulang, yang saya pikirkan adalah bagaimana caranya menghentikan kebiasaan ngelem anak-anak tersebut. Saya tidak tahu pasti pendekatan seperti apa yang harus digunakan, karena belum pernah punya pengalaman seperti ini. Kepikiran sama saya untuk bercerita seperti ini…

Donny : “Barudak, ada beberapa hal yang menyebabkan kemiskinan dan penderitaan seumur hidup, yaitu : Pertama, ngelem. Kedua, ngelem. Ketiga, ngelem. Keempat dan seterusnya, ngelem. Jadi, masih ada yang mau ngelem??

AAJ : “Saya…!“, sambil ngacung, serentak.

Donny : *SIGH*

C 1 H 3 U L 4 17 6. 241107. 03.30

Labels: ,

Posted At Thursday, November 22, 2007

Mau Kaya? Ngemis Aja!!

Surat Pembaca koran Pikiran Rakyat hari Rabu kemarin, 21 Nopember 2007, memuat sebuah cerita yang sebetulnya sangat memprihatinkan, tapi saya sempat terbahak-bahak juga membacanya. Sewaktu sedang mengobrol di depan kamar salah satu teman kost-an saya, tiba-tiba saya disodori koran tersebut “nih, baca…!” katanya.

Penulis surat pembaca tersebut menceritakan soal pengalamannya dengan pengemis. Ketika dia sedang duduk-duduk di pelataran Masjid Agung Bandung, tiba-tiba datang pengemis sedang menggendong anaknya, dengan tampang yang memprihatinkan. Bilangnya sih, “belum makan 2 hari“. Karena merasa iba, penulis tersebut, yang ternyata seorang mahasiswi Fikom Unpad, berniat memberi uang sebesar Rp. 5000. Namun, sebelum sempat diberikan, tiba-tiba terdengar ringtone HP, konon lagu dari group band Ungu. Tiba-tiba saja, pengemis tersebut misah-misuh merogoh tasnya dan mengeluarkan…jreng…HP Nokia terbaru, dan lebih bagus daripada si mahasiswi tersebut. Konon pengemis tersebut mengatakan…”nanti telpon lagi, saya sedang kerja sekarang.

Pengalaman lain, baru saya alami sebelum menulis ini. Ketika jaga warnet, datang seorang pengemis. Seperti biasa, saya dan teman-teman di warnet itu selalu memberi kepada setiap pengemis yang datang. Saya memberi Rp. 1000 kepada pengemis itu. Namun, tiba-tiba pengemis itu meminta untuk menukar seluruh uang receh miliknya. Setelah dihitung-hitung, total uang yang ditukarkan sebanyak Rp. 40.000. Whew!! Lebih besar daripada gaji harian seluruh pegawai warnet itu. Gila, itu baru setengah hari…misalkan dia mendapatkan tambahan Rp. 40.000 lagi setengah hari berikutnya, total dia dapat Rp. 80.000. Misalkan dia ‘kerja’ selama 6 hari/minggu. Dia sudah ‘menghasilkan’ uang’ lebih dari Rp. 1.800.000/bulan. Weleh-weleh…!!

Cerita lain, sewaktu saya dan teman duduk di kursi depan sebuah angkot. Saat itu, kami melihat seorang pengemis yang memang sangat mengkhawatirkan, lebih-lebih karena secara fisik, dia memang cacat. Ketika saya dan teman saya ngobrol ‘mengasihani’ orang tersebut, tiba-tiba sopir angkot tersebut menimpali. “Wah, dia tuh sehari bisa dapat 400 ribu, kalau lagi sepi juga bisa dapat 200 rb. Dia udah punya 4 buah motor, dan anak-anaknya bisa kuliah. Rumah nya aja loteng.” Dan tiba-tiba, saya ingin mengutuk…

C 1 H 3 U L 4 17 6. 221107. 15.07

Labels: ,

Posted At Saturday, November 17, 2007

Bakat Terpendam: Jadi Psikopat!!

Satu hal yang saya sadari dalam diri saya adalah potensi untuk melakukan hal-hal usil atau jahat. Pernah suatu saat di sebuah rumah makan, ketika saya dan teman-teman telah menyelesaikan makan, datang satu rombongan wanita. Kebetulan tempat makan tersebut sedang penuh. Menyadari hal itu, kami tadinya berniat untuk pergi dari meja yang kami gunakan, untuk memberikan kesempatan kepada rombongan tersebut. Tidak ada niat apa pun, karena memang tidak ada satu pun wanita yang menarik perhatian kami…loh?! :D Sesaat sebelum kami beranjak, tiba-tiba salah seorang perempuan dari rombongan tersebut berbicara cukup keras, “wah, kita nggak kebagian tempat nih…

Tiba-tiba saja, saya jadi ingin usil, dan membatalkan rencana kami itu. Saya pandang wajah teman-teman saya, dan ternyata mereka pun berpikiran sama. Kami sama-sama tersenyum…usil. Kami pun batal beranjak dari tempat tersebut. Kami pura-pura cuek, ngobrol atau pura-pura baca koran. Sesekali kami saling pandang dan…saling senyum. Entahlah, setelah tiba-tiba mendengar ‘penderitaan’ mereka, kami malah jadi ingin menambah penderitaan mereka. Tiba-tiba saja kami jadi orang usil. Meskipun tidak lama, hanya 5 menit, tapi cukup bisa membuat kami tertawa-tawa sepanjang jalan pulang menuju kost-an. Jahat ya? Niat ingin dapat pahala, malah jadi dosa.

Kali lain, masih di tempat makan yang sama. Biasanya di tempat makan tersebut tersedia koran sebagai bahan bacaan atau mungkin untuk digunakan sambil menunggu makanan pesanan tiba. Saat itu, giliran saya yang memegang koran dan membacanya. Tidak lama kemudian, makanan kami tiba. Namun, saya tidak melepaskan koran tersebut, malah saya makan sambil membaca. Kebetulan di meja kami juga ada orang lain yang sedang menunggu makanan.

Setelah selesai makan dan meninggalkan meja tersebut, teman saya bercerita…

Don, lu tau nggak, orang yang disebelah lu tadi ngelihatin lu terus…kayaknya sih dia pengen banget baca koran, tapi bingung mau gimana, soalnya lu makan, tapi baca juga

Iya, tau gua…sengaja kok, lagi pengen bikin kesel orang…

Haha, emang kelihatan ya…?

Kelihatan lah, dari cara ngelihatnya juga kelihatan banget…cuma gua pura-pura cuek aja…hehehe

Namun, berdasarkan pengalaman jadi orang usil itu, kami jadi tahu satu hal…jangan pernah mengeluh atau memperlihatkan penderitaan di depan orang lain!! Sebab bisa jadi orang lain malah bahagia melihat kita menderita dan semakin menambah penderitaan kita. Ya, seperti kasus saya itu…^.^ Untungnya, sifat usil saya tidak sering muncul, bahkan teramat sangat jarang. Masih bisa dikendalikan, meskipun sebetulnya ide-ide usil itu juga suka muncul dan membuat saya tertawa-tawa sendiri. Psikopat banget ya?!

Terakhir kali muncul, tidak lama sebelum posting tulisan ini. Kawan lama saya, seorang perempuan, yang juga merupakan mantan pacar kawan dekat saya tiba-tiba SMS dan meminta nomor hp kawan dekat saya itu. Kemudian saya balas,

SMS Donny (SD): “Wah, curigation nih…*siul2* ada apa ya?

SMS Teman Wanita Itu (STWI): “Gak ada apa2 kok, ada urusan bisnis sama dia

SD : “Hati-hati ah, pacarnya yang sekarang cemburuan

STWI : “Wah, kok pacarnya cemburuan semua sih, kecuali gua…

SD : “Kalau lu maju dan ganggu dia lagi juga kayaknya pacarnya bakalan tersingkir…

STWI : “Wah, ntar deh kalau gua udah putus sama pacar yang sekarang…

SD: “Saran : putusin pacar lu, dan ganggu dia…!! :D”

STWI : “Ok deh, saran lu akan gua pertimbangkan…!!

SD: “Saran lagi : pertimbangkannya jangan kelamaan, keburu merit dia, udah ancar2 tuh. Tapi, kalau ada apa2, jangan salahin gua ya? *siul2*

STWI: “Ya jelas gua salahin lu lah…lu kompornya!! Kalau ketemu dia, titip salam ya dan bilang gua minta nomornya

SD: “Ok, ntar kalau dia lagi sama pacarnya gua bilang, ‘ada salam dari bla bla bla, tadi dia minta nomor HP lu juga‘ heuheuheu

STWI: “Boleh, cepat laksanakan ya?!”

Sebetulnya yang paling saya takutkan adalah ketika marah. Seringkali muncul pikiran-pikiran yang setelah saya reda dari kemarahan itu membuat saya berkali-kali istighfar. Meskipun jarang, tapi ternyata saya juga memiliki potensi menjadi seorang pendendam dan tidak mudah melupakan kejadian-kejadian yang pernah membuat hati saya tersinggung. Untungnya lagi, orang-orang seperti ini juga jarang dan pembawaan saya yang belakangan lebih cuek juga menolong saya dari sifat-sifat semacam itu. Lagipula, sudah lama sekali saya tidak pernah marah kok…

C 1 H 3 U L 4 17 6. 171107. 04.12. Saat Adzan shubuh bergema.

Labels:

Posted At Monday, November 12, 2007

Purnama, Shaum dan Simbol Romantisme

Berselang cukup lama, sekitar 3 bulan, ketika sebuah diskusi bersama teman-teman seperjuangan menjelang Ta’lim Rutin SSG Cibeunying, menginspirasi saya untuk menuliskan hasil diskusi tersebut. Ide menulisnya sudah cukup lama, tapi baru teringat lagi sekarang. Diskusi tersebut berbicara tentang…seks. Di dalam masjid…tapi memang tidak ada masalah dengan itu kan?

Saya lupa lagi darimana awalnya, yang jelas pada akhirnya diskusi tersebut berujung di topik tersebut. Ada 4 orang yang terlibat diskusi, 1 orang sudah cukup lama menikah, 1 orang baru menikah, 2 orang lagi belum, saya salah satu dari yang terakhir itu. Berawal dari rasa penasaran saya, saya mengajukan pertanyaan kepada rekan yang sudah cukup lama menikah.

Pak, penasaran nih…Dalam Al-Quran kan ada satu ayat yang mengijinkan untuk melakukan hubungan suami-istri di malam hari, pada bulan Ramadhan. Memang seberapa besar sih pengaruh ayat tersebut kepada orang yang menikah?

Makanya, kalian harus menikah dulu, baru tahu bagaimana rasanya. Hehehe. Islam itu luar biasa, betul-betul Agama fitrah, sangat mengerti betul dengan kebutuhan manusia. Salah satunya adalah ayat tersebut. Kalau kalian sudah menikah, akan terasa betul manfaat dari ayat tersebut. Apalagi pada saat bulan purnama?

Purnama, pak? Memang apa hubungannya?” tanya saya lagi keheranan.

Tahu kan bagaimana pengaruh bulan pernama terhadap pasang-surut air laut? Nah, ternyata bulan purnama itu juga berpengaruh terhadap pasang-surut libido manusia juga. Ketika purnama, akan terasa betul hasrat seks itu ada di puncaknya, coba saja perhatikan dan rasakan…!

Wah, kok saya baru tahu ya? Perasaan kok biasa-biasa saja ya? Apa karena tidak pernah saya perhatikan kali ya?

Ya, mungkin karena tidak pernah diperhatikan. Hal ini juga cukup menjadi alasan kenapa Rasulullah menjadikan pertengahan bulan (13,14,15) hijriyah untuk melakukan shaum sunat, terutama bagi para bujangan seperti kalian. Pada saat itu kan bulan sedang purnama. Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan perintah shaum bagi mereka yang mampu menikah, tapi belum memiliki kesempatan. Shaum itu bisa menjadi rem. Ini juga menjadi bukti bahwa perintah-perintah Rasulullah tersebut bukan asal perintah, tapi ada makna di balik itu semua.

Hmm, saya jadi penasaran nih pak, jangan-jangan cerita soal Werewolf itu juga inspirasinya dari fenomena ini ya? saking ‘berat’-nya menahan hasrat, jadi aja Serigala…” canda saya.

Oh, iya…bisa jadi. Barangkali itu merupakan simbol bahwa ketika bulan purnama, nafsu kita sedang memuncak dan menyerupai binatang dari sisi itu.

Wah, pantesan tiap-tiap film romantis biasanya disorot adegan bulan purnama, tapi sebetulnya sih banyakan film horor kalau bulan purnama. Apa karena itu juga kenapa, bisa dikatakan, setiap orang suka melihat bulan purnama dan jadi sentimentil tiap lihat bulan purnama? Trus, yang kebayang tuh…’andai ada si dia disisiku, halah!’ Hehehe. Kalau yang sudah menikah kan asyik, nah yang belum kayak kita-kita ini kan jadinya…shaum lagi, shaum lagi, mupeng deh!!

Haha, iya, mungkin itu juga alasannya, kenapa ketika bulan purnama yang terbayang hal-hal yang romantis melulu.

Pembicaraan kami berakhir karena pemateri untuk ta’lim saat itu sudah datang. Hmm, ada yang punya pengalaman lain dengan purnama nggak ya?

C 1 H 3 U L 4 17 6. 121107. 03.30

Labels: , ,

Posted At Saturday, November 10, 2007

Cerita Dari BHTV Gathering

Berawal dari sebuah undangan di milis KLuB yang dikirimkan oleh Zaki Akhmad soal pertemuan BHTV (Bandung High-Tech Valley) yang akan diadakan di Bimbingan Belajar IZI, Jl. Ambon 19 Bandung, kemudian memunculkan minat saya untuk mengikuti kegiatan tersebut. Meskipun sudah cukup sering mendengar membaca soal BHTV, tapi awalnya tidak terlalu membuat saya berminat, karena saya pikir komunitas tersebut bersifat tertutup. Namun, ketika undangan tersebut sampai ke email saya, apalagi melihat susunan acaranya yang bernuansa ilmiah, membuat saya tertarik untuk menghadiri acara tersebut. Sudah cukup lama saya tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang ‘berbau’ ilmiah, tepatnya sejak lulus kuliah. Terus terang, saya merindukan suasana tersebut.

Maka, berangkatlah saya pada waktu yang dijadwalkan, meskipun terlambat setengah jam akibat hujan deras yang mengguyur Bandung. Saya tertahan di Masjid Salman selama 30 menit, dan tiba di lokasi jam 7 kurang. Untunglah, ketika saya tiba di sana, acara belum dimulai. Setelah bertanya kepada satpam di mana tepatnya tempat kegiatan, saya langsung menuju ke sana. Kikuk juga, karena itu pertama kali saya mengikuti kegiatan BHTV, selain itu karena memang tidak satu pun yang saya kenal atau kenal saya. Meskipun nama-nama yang hadir saat itu tidak asing bagi saya, ada pak Budi Raharjo dan pak Dimitri Mahayana.

Dalam 2 minggu terakhir, kegiatan ini merupakan yang kedua, setelah PestaBlogger, dimana saya tidak pernah bertemu sebelumnya dengan para pesertanya. Awalnya merasa minder juga, tapi setelah dipikir-pikir, kalau saya minder seperti itu, saya tidak akan pernah maju. Apalagi, dalam acara BHTV, saya merasa satu-satunya orang yang non-ITB, tapi akhirnya pikiran-pikiran semacam itu berhasil disingkirkan dan saya bisa hadir di acara tersebut, no regret.

Acara dimulai tepat jam 7, dipandu oleh pak Budi, dengan sesi pertama presentasi dari Zaki tentang Panduan Penelitian OpenSource. Dokumentasinya sendiri bisa di-download di sini. Zaki sedikit bercerita tentang tantangan dan hambatan penelitian yang berhubungan dengan OpenSource. Sementara, pak Budi sendiri menjelaskan bahwa panduan tersebut gunanya untuk memetakan atau sebagai road map jenis penelitian yang seperti apa saja yang dibiayai oleh pemerintah.

Sesi kedua diisi oleh Anto dari Pusat Mikroelektronika ITB yang mempresentasikan tentang Virtual Office. Konsepnya sederhana sebetulnya, memindahkan organisasi (perusahaan) ke dunia maya. Dengan cara seperti ini, setiap orang yang terlibat dalam organisasi/perusahaan yang menggunakan virtual office tidak perlu datang ke kantor, namanya juga virtual. Seperti ada tapi tiada, seperti tiada tapi ada. Untuk melakukan atau mengetahui task yang harus dikerjakan, cukup mengakses web virtual office tersebut.

Sesi ketiga diisi oleh Pak Sanny yang menceritakan pengalamannya pergi ke Bangalore, India. Dan ceritanya membuat peserta kegiatan tersebut terperangah sekaligus prihatin dengan kondisi Indonesia (atau hanya perasaan saya saja ya?), namun pada saat yang bersamaan menumbuhkan semangat peserta juga agar bisa seperti itu. Beliau bercerita soal kemajuan kota Bangalore, terutama bidang IT-nya yang mampu menyumpang 26% pemasukan APBN kota/negara tersebut, saya lupa lagi. Kemajuan IT India memang sudah cukup lama saya dengar, tapi setelah mendengarkan paparan Pak Sanny, saya menjadi semakin bertambah yakin, sekaligus penasaran juga. Soalnya di film-film India, soal IT, setahu saya, tidak pernah dibicarakan. Pak Sanny juga membacakan fakta-fakta soal kemajuan kota Bangalore, sayangnya tidak saya catat. Satu-satunya yang saya sesali adalah tidak sempat menanyakan tentang kondisi pendidikan di sana, maksud saya, biayanya. Konon tidak berbeda jauh dengan Indonesia.

Sesi keempat, giliran Pak Dimitri Mahayana yang berbagi cerita, tentang pengalamannya di Korea. Lagi-lagi, cerita beliau cukup membuat peserta terperangah (atau, lagi-lagi, hanya saya?) Konon, di Korea, jurusan-jurusan kuliah itu lebih terfokus, sampai-sampai ada jurusan Game Developer. Sehingga, ketika lulus, sudah jelas keahliannya. Bandingkan dengan Indonesia yang ketika lulus kuliah banyak sarjana yang tidak tahu mau apa dan kemana, contohnya, ya…saya ini :D. Dalam perjalanannya, pak Dimitri memang lebih fokus untuk study-banding soal game developer. Dan, katanya, beliau dibuat tercengang oleh kemajuan game developer di Korea.

Sesi kelima, presentasi tentang sebuah proyek Fiber Optic, tapi ada beberapa hal yang harus diolah lagi, lebih bersifat bisnis. Sesi ini yang paling ramai, karena kalau proyek ini bisa berjalan dengan baik, bisa menjadi ‘masa depan’ dunia internet di Kota Bandung. Saya sendiri belum terbayang akan bagaimana proyek ini jadinya, yang jelas memang masih akan diolah lagi oleh tim BHTV. Inginnya ikut terlibat juga, tapi saya masih baru dan belum paham harus apa di sana. Untuk saat ini sih ikut-ikut saja dulu, siapa tahu bisa ‘kecipratan’. Hehe.

Menjelang akhir kegiatan, Pak Sanny ‘menantang’ komunitas ini untuk mengadakan event besar di bulan Desember. Dan ternyata, para peserta pun cukup antusias menerima tantangan tersebut, meskipun belum tahu event semacam apa yang akan diadakan. Wah, saya harus terlibat kalau begitu, jangan sampai ketinggalan, harus!! Kegiatan tersebut ditutup menjelang pukul 9 malam, sesuai dengan rencana.

Bagi saya, kegiatan semacam ini cukup menjawab kerinduan saya terhadap sebuah komunitas yang selama ini saya cari. Bersifat ilmiah, tapi tidak terlalu formal. Namun lebih dari itu, punya cita-cita besar, ini yang paling penting. Menyenangkan rasanya bisa satu forum dengan mereka yang sudah dikatakan ahli dibidangnya masing-masing. Selain itu, penerimaan mereka yang terbuka membuat saya merasa nyaman. Saya jadi terpacu untuk lebih meningkatkan kemampuan saya. Dan rasanya, dengan bergabung di BHTV, kesarjanaan saya akan lebih berguna jika dibandingkan dengan apa yang saya kerjakan selama ini. And, yes...finally, i found the community.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 101107. 03.40.

Labels: ,

Posted At Thursday, November 01, 2007

Karena Wanita Ingin Dimarahi

Barangkali, salah satu masalah terbesar saya dalam bersosialisasi dengan orang lain adalah komunikasi dengan lawan jenis. Namun, saya cukup yakin bahwa masalah ini bukan milik saya semata. Bukannya mencari teman, tapi dari pengamatan saya, masalah komunikasi antara pria-wanita sering kali menjadi masalah dalam menjalin hubungan. Hubungan dalam bentuk apa pun, pertemanan, pacaran bahkan suami-istri sekalipun. Konon biang keladinya karena perbedaan kapasitas dan karakteristik otak antara dua jenis manusia ini.

Saya sendiri bukannya tidak tahu atau tidak mengerti tentang bagaimana seharusnya memperlakukan wanita atau bagaimana wanita ingin diperlakukan. Setidaknya saya sudah merasa cukup tahu tentang teori-teori komunikasi dengan lawan jenis. Akan tetapi, teori adalah satu hal, sementara praktek dalam keseharian adalah hal lain. Ada faktor lain yang memiliki peranan dalam mempengaruhi komunikasi dengan lawan jenis. Karakter, ego atau latar belakang kehidupan masa lalu bisa dijadikan contoh. Bahkan ‘ketaatan’ seseorang terhadap ajaran agama yang dianutnya bisa menjadi faktor yang cukup kuat.

Pada dasarnya, saya dan mungkin juga banyak pria lain, adalah tipikal orang yang tidak suka dan tidak terbiasa berbasa-basi. Kalau pun terpaksa harus melakukannya, akan sangat kentara sekali kalau saya sedang berbasa-basi. Bagi saya ketika seseorang mengatakan ‘tidak’ berarti ‘tidak’ dan ‘ya’ berarti ‘ya’. Jika ternyata apa yang diucapkan di mulut dan di hati berbeda, itu bukan urusan saya. Apalagi mencoba bermain-main dengan ‘bahasa simbol’ dengan saya, kalaupun saya mengerti dengan ’simbol’ tersebut, saya tetap mengartikannya secara harfiah dan mencukupkan diri dengan arti yang harfiah itu.

Sampai dengan SMA kelas 2, saya hampir tidak pernah memiliki teman dekat seorang pun wanita. Memang ada banyak teman wanita, tapi terbatas pada masalah-masalah pelajaran sekolah atau organisasi. Lebih dekat atau lebih intim dari itu, bisa dipastikan tidak pernah, apalagi sampai punya pacar. Sebagian besar teman-teman dekat saya adalah laki-laki. Dan sebagaimana umumnya laki-laki, berbagai bentuk komunikasi verbal seperti obrolan, pujian atau bahkan celaan sekalipun jarang ‘dimasukan’ ke hati. Nyelekit-nyelekit sedikit mah biasa, apalagi ketika SMA kelas 3, bisa dipastikan cela-mencela sudah menjadi bagian hari-hari saya. Kadang-kadang celaan yang keluar sudah tidak dipikirkan lagi apakah menyakiti hati orang lain atau tidak. Baru SMA kelas 3 saya memiliki teman-teman akrab wanita, karena belum terbiasa, saya tetap saja memperlakukan mereka seperti teman laki-laki saya yang lain. Sesekali nyela, ceplas-ceplos atau memberikan komentar-komentar yang tidak penting.

Kebiasaan tersebut berlangsung sampai sekarang. Barulah ketika kuliah saya sering mendapatkan teguran dari salah satu teman kuliah saya, seorang wanita tentunya. Pernah suatu kali dia memberitahu kalau sudah beberapa kali ucapan saya menyinggung perasaannya. Kali lain, saya juga pernah ‘diajari’ tentang bagaimana seharusnya memperlakukan wanita oleh salah seorang teman wanita saya, tapi tetap saja tidak merubah sikap saya. Akan lebih mudah jika saya yang diajak ngobrol atau disapa duluan daripada sebaliknya. Dari pengalaman yang sudah-sudah pun seperti itu, teman-teman wanita yang menjadi akrab dengan saya bisa dipastikan adalah mereka yang menyapa saya duluan.

Jika berhadapan dengan wanita yang saya sukai, bukannya tidak ingin menyapa duluan, tapi saya seringkali kehilangan akal, mau ngapain ya? mau ngomongin apa ya? saya kan tidak terbiasa basa-basi. Nanya kerjaan, udah tahu kerja di mana. Nanya rumah, udah tahu alamatnya. Bahas organisasi, beda divisi, lagipula apa urusan saya dengan divisinya si dia. Lalu kalau SMS atau telpon, mau ngobrolin apa coba? Apalagi selama ini saya tidak pernah menelpon atau SMS seseorang, entah wanita atau laki-laki, jika tidak ada urusan yang penting. Jika dengan teman-teman yang biasa saja sampai seperti itu, apalagi kepada wanita yang saya sukai. Maka, jangan heran jika bertemu orang yang saya sukai, saya seringkali menjadi dingin, karena memang tidak tahu dengan apa yang harus diperbuat. Lebih mudah jika saya dan si ‘dia’ memang ada urusan, atau karena bertemu di jalan secara tidak sengaja, tapi tetap saja, obrolan saya tidak jauh-jauh dari urusan itu. Kalau pun harus menyapa jika bertemu, paling juga pertanyaan “mau kemana?” “habis darimana?” sudah, selesai. Akan tetapi, jika saya yang disapa duluan, saya bisa jadi orang yang SKSD…sok kenal, sok deket.

Sebutkan saja sifat-sifat yang tidak romantis, mungkin ada pada saya semua. Cuek, tidak suka basa-basi, langsung pada pokok pembicaraan, jarang memuji, kurang perhatian. Bahkan kepada wanita-wanita yang pernah saya ‘bidik’ untuk menjalin ‘hubungan serius’ sekali pun. Terserahlah kata ‘hubungan serius’ itu diartikan apa, dulu mungkin pacaran, tapi sekarang mungkin pernikahan. Namun, sesungguhnya sejak dulu, bahkan sejak SMP pun, saya selalu berfikir untuk mencari istri, bukan pacar. Mungkin karena memang sejak dulu tujuan saya mencari istri, saya nggak pernah dapat pacar. Hahaha.

Saya ingat betul, sebuah kejadian ketika zamannya masih suka nyari pacar dulu :

Seseorang : “Kang, udah ya, makasih mau bantu, mau pulang dulu…

Donny : “Oh, iya, lagian udah malam…saya temenin nyebrang dan nungguin angkotnya ya?

Seseorang : “Ah, nggak usah, bisa sendiri ini…

Donny : “Oh, ya udah atuh…hati-hati…

Dan saya membiarkan ’seseorang’ itu menyebrang sendirian. Sementara dia berjalan ke pinggir jalan untuk menyeberang, saya masih duduk. Setelah menyaksikan ’seseorang’ itu menyeberang dengan selamat, saya pergi. Bahkan tidak terpikir untuk memastikan apakah ’seseorang’ itu sudah naik angkot atau belum, di malam hari. Maka, ketika saya ceritakan soal kejadian itu kepada teman-teman saya, habislah saya diceramahi.

Teman : “Ari maneh, kenapa nggak ditemenin nyebrang? kenapa juga nggak sekalian dianterin?

Donny : “Yeee…dianya nggak mau, boro-boro nganterin, ditemenin nyebrang aja nggak mau!

Teman : “Duh, maneh mah, cewek tuh pengennya dipaksa, pengennya diperhatiin, mereka mah nggak mungkin langsung nge-iya-in aja permintaan kamu…namanya juga jaim. Mereka tuh pengennya kamu ngerti sendiri meskipun nggak diungkapin dengan kata-kata.

Donny : “Ih, salah siapa, pake jaim2 segala ke saya, kalau nggak mau mah ya udah, kalau emang mau bilang aja mau, ribet amat. Trus, gimana saya bisa ngerti kalau dianya nggak ngomong? Udah jelas-jelas saya dengernya ‘nggak usah’. Emang ada arti lain dari kalimat itu? Lagian gimana coba kalau memang dia nggak mau?

Teman : “Kalau emang dia nggak mau pun, setidaknya dengan kamu maksa-maksa dia, dia ngerasa diperhatiin…dia ngerasa dibutuhkan…ngerasa diistimewakan

Donny : “Yee, udah tau saya teh paling males maksa-maksa…

Teman : “Euh, maneh mah…pantesan jomblo melulu!

Donny : “Ah, biarin weh…

Saat lainnya…

Donny : “Eh, tunggu sebentar, nanti siang ada waktu nggak, ada yang mau diobrolin, penting…

Dia : “Duh, maaf, nggak bisa, lagi sibuk…

Donny : “Oh, ya udah…

Dan saya pergi begitu saja, tanpa pernah meminta lagi. Perkara apakah si ‘Dia’ bakalan penasaran atau tidak, itu sih bukan urusan saya.

Pernah juga ada seorang wanita SMS saya, yang jelas saya ‘tidak tahu’ wanita tersebut, karena nomornya tidak terdaftar di phonebook HP saya. SMS tersebut saya balas…

Eh, ini siapa ya? maaf, saya nggak kenal nomornya, di phonebook saya nggak tercatat…

Tidak lama kemudian, wanita tersebut membalas SMS saya :

Ayooo, coba tebak, siapa…? kalau nggak bisa tebak, ntar dibilang jelek!!

Dan…jawaban saya.

Ah, udah biasa dibilang jelek…! Mau ngasih tahu nggak?

Setelah itu, tidak pernah ada lagi sms dari nomor tersebut. Mungkin jawaban tersebut terkesan jutek. Ya, sudah, saya hapus saja…beres!!

Karena sifat tidak romantis juga, seringkali muncul bermacam-macam ‘ajakan’ untuk menikah dalam pikiran saya. Dan bisa dipastikan, ‘ajakan’ itu tidak bisa disebut romantis, bahkan terkesan lurus-lurus saja.

Donny : “Eh, Neng, mau nemenin saya nggak?

Si Eneng : “Ke mana kang?

Donny : “Ke KUA neng…

Si Eneng : “Ngapain ke KUA kang…?

Donny : “Yang jelas mah bukan mau jualan bakso atau maen gapleh di sana atuh neng…!

SI Eneng : “Terus ngapain atuh kang…?

Donny : “Nikah, mau nggak?

Si Eneng : “Oh, hayu atuh kang…

Atau mungkin seperti dialog yang satu ini jika bertemu seorang wanita cantik yang baru pertama kali saya temui.

Donny : “Teteh, nama saya Donny, teteh sudah menikah?

Si Teteh : “Emang kenapa gitu?

Donny : “Jawab aja atuh teh…!

Si Teteh : “Belum.

Donny : “Kalau calon suami atau pacar gitu?

Si Teteh : “Emang kenapa sih? kok nanya-nanya itu?

Donny : “Ya, jawab aja dulu lah…!

Si Teteh : “Nggak punya juga, kenapa sih?

Donny : “Gini Teh, saya lagi nyari wanita yang nyuri tulang rusuk saya, dan saya curiga Teteh pelakunya, soalnya ciri-cirinya memang mirip sama Teteh

Dan setiap saya konfirmasikan kepada teman-teman wanita saya, bagaimana seandainya saya melakukan itu, sebagian besar menyarankan “jangan pernah melakukan itu!” Hehehe. Padahal kalau dipikir-pikir, kan seru ya? Tapi memang ada masalah lain, soal keberanian, ini yang ternyata jadi masalah buat saya juga. Selain itu, aslinya saya memang pemalu sekali jika berhadapan dengan wanita.

Bukan rahasia lagi jika wanita terkesan berbelit-belit dalam menyelesaikan masalah, karena seringkali melibatkan perasaan. Hal-hal yang menurut laki-laki sebetulnya sederhana, seringkali jadi ribet. Belanja yang oleh laki-laki hanya bisa dilakukan 5 menit, bisa jadi 50 menit. Gara-gara salah ucap, bisa seharian uring-uringan, meskipun laki-laki sudah berkali-kali minta maaf. Hanya gara-gara lupa mengucapkan selamat ulang tahun, bisa menangis tak henti-henti. Itulah sebabnya, saya sering memelesetkan lagu ADA Band yang berjudul ‘Karena Wanita Ingin Dimengerti‘ menjadi ‘Karena Wanita Ingin Dimarahi‘. Itu pula alasan saya memberi judul tulisan ini.

Satu lagi bahasa wanita yang tidak atau sulit dipahami oleh laki-laki. Menangis. Meskipun, saya berpendapat bahwa menangis adalah salah satu bentuk egoisme wanita. Coba saja lihat. Marah sedikit, nangis. Kurang suka sesuatu, nangis. Sudah jelas-jelas kalau sedih, pasti nangis. Tidak setuju, nangis. Tersinggung sedikit, nangis. Malu sedikit, nangis. Ingin makanan, nangis. Bahkan, dapat duit banyak pun, menangis juga…aneh. Lebih aneh lagi, sebagian besar laki-laki takluk oleh tangisan wanita ini, luar biasa. Dan berdasarkan pengamatan saya, setiap laki-laki akan memilih salah satu dari pilihan berikut ini : mengalah dan berusaha merayu wanita tersebut, atau…bingung! Jika laki-laki yang meninggalkan istri atau pacarnya menangis sendirian, bisa jadi dia termasuk kategori yang kedua, laki-laki yang bingung. Atau mungkin ada satu lagi yang terpikir oleh saya untuk dilakukan, membelikan balon atau permen supaya tidak menangis lagi! (emangnya anak kecil?) Ya, tapi kan nantinya wanita tersebut akan bosan juga setiap menangis dibelikan balon atau permen. Iya kan? iya kan? Hehe. Eh, tapi kalau saya melakukan itu, kok rasanya malah jadi seperti Mr. Bean ya? Hihihi.

S 3 K 3 L 0 4. 011107. 02.08.

NB : Ya Allah, udah November lagi…ck ck ck.

Labels:

Posted At Monday, October 22, 2007

Ngelemesin Jari

Cuma penasaran…ADA YANG KANGEN SAMA SAYA NGGAK YA? Yang kangen…NGACUNG!! Hehehe…

Lumayan juga melancong sebulan, setidaknya saya jadi tahu satu hal dari beberapa hal…ternyata saya sudah dijajah sama teknologi yang namanya internet dan barang yang namanya komputer!! Saya benar-benar ’sakaw’ sama yang namanya internet, makan tak enak, minum pun terasa tak nikmat…untung aja bulan puasa :p Selama sebulan ‘menjelajahi’ Sumatera, saya merasa betul sulitnya akses internet di pulau tersebut. Bahkan di kota-kota besar macam Pekan Baru dan Palembang pun saya kesulitan mendapatkan akses internet. Sekalinya ada…Doh! Lambat benerrr…meskipun nggak selambat keong ngangkut barbel sih.

Ini rencana saya beberapa hari atau mungkin beberapa minggu ke depan :

  1. Bikin laporan pertanggungjawaban ke perusahaan yang ‘nyewa’ saya, supaya rupiah cepet masuk rekening gitu…:D
  2. Baca seluruh email, atau kalau males, ngehapusin email-email yang masuk yang jumlahnya mencapai 2000 lebih, and still counting :(
  3. Bikin beberapa tulisan yang selama sebulan ini mengendap di kepala + bikin review buku yang baru selesai saya baca, tapi minus catatan perjalanan, soalnya mau dibikin pake gaya-gaya novel gitu dehhh…gaya pisan nya? :p Buat fans-fans tulisan saya, tenang aja…tetep di upload kok. (Ouch! Donny…!!!please deeehhh, gk usah ke-GR-an!!)
  4. Ngelanjutin bikin theme kronologger, ngelanjutin develop pojokelas.net, ngelanjutin develop donnyreza.net, ngerancang situs ssg cibeunying atau mungkin juga sekalian memperkaya content situs relawan rumah zakat. Masalahnya cuma 1, waktu saya mepet banget nih…
  5. Rencana migrasi katapengantar dari blogger ke pojokelas.net atau ke donnyreza.net.
  6. Upload foto-foto sewaktu melancong dan silaturahmi sama teman-teman SMA.
  7. Menghadiri acara pestablogger di blitzmegaplex Thamrin, Jakarta. Mewakili komunitas muslimblog.
  8. Bikin program kerja divisi kaderisasi SSG Cibeunying. Tugas yang cukup berat. Dodol-nya saya…!! saya malah mengajukan diri untuk jadi koordinator (lagi) di divisi tersebut. Padahal di periode sebelumnya…GAGAL!! eh, salah…belum sukses!! :(
  9. Merancang dan mengumpulkan bahan untuk beberapa project yang akan saya simpan di pojokelas.net. Lumayan juga, selama beberapa hari belakangan terpikir untuk memperkaya situs tersebut yang rencananya memang untuk mengasah skill PHP saya, sesuai dengan tujuan dari komunitas RuangKopi. Tapi…saya udah lupa lagi coding nih…gawat!!
  10. Apalagi ya…? Oh, iya…Membekukan dulu rencana nikah…sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan atau sampai sudah pasti jodohnya kali ya? :p Stress juga bikin target nikah tapi nggak tercapai, kelakuan saya jadi aneh gitu…:)) Ya, ganti fokus dulu lah…alhamdulillah, selama sebulan lebih ini saya nggak terlalu dapat pressure soal nikah ini, jadinya bisa lebih rileks dan nggak terlalu kabita, tapi kalo emang bisa segera, ya…bagus lah! :))
  11. Melakukan klasifikasi phonebook HP saya yang jumlahnya mencapai angka 300. Gara-garanya, belakangan ini sering salah kirim SMS, jadi malu…^.^
  12. Beli beberapa barang untuk keperluan komputer saya yang sudah saatnya untuk di upgrade, service dan…DIBANTING!!
  13. Bayar utang ke beberapa orang, sekaligus juga mau nagih utang…:p Buat yang punya utang, siap-siap!! I’m coming…!!
  14. TAUBATAN NASUHA meureun nya? Pas idul fitri kemarin, kerasa banget banyak dosa nya…tapi nggak tahu kudu kumaha.
  15. Jualan lagi, jaga warnet lagi dan…bingung lagi :))

Anyway, dengan segala kerendahan hati saya…mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau tulisan ini tampak ngaco, maklum lah, udah sebulan nggak tulas-tulis, jadi perlu penyesuaian lagi. Lagipula, posting kali ini mah cuma buat ngelemesin jari aja yang udah hampir sebulan nggak dipake ngetik.

Buat seluruh sahabat, rekan, saudara…TAQABALALLAHU MINNA WA MINKUM. Semoga ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Amiin.

Dan…sebagai persembahan dari saya, selamat menikmati (lirik) lagu Drive dari Incubus berikut ini…(anggap aja lagunya kedengeran ya? :p )

Whatever tomorrow brings, I’ll be there,
with open arms and open eyes…

DU. 221007. 22.54.

NB : BT ih, warnet sebelah kostan pindah gk bilang-bilang :((

Labels:

Posted At Monday, September 10, 2007

8 September 2007
00:11 Dani Birama
met malam ayangku...dirgahayu bwt engkong dony. smoga mrh rezeki, cita2 tercapai, sehat selalu; slalu dlm lindungan 4JJ1n ga lupa dgn traktirannya. amien. trusin tdurnya ya

>> Amien. Makasih ayangku...:p Yee, gk tidur kok :p orang mau jaga warnet

00:22:38 SMS from Riyantini :
Asw...oh y meef tgh malam nanya he..2x. Kg Doni ada kbr ktny dulu gk nyampe rumah ai? nyasar gt? masa seh? bner gt? dah ah tidur lagi ah :o zzzzz

>> Waslm. Gk kok, nyampe, isyu dari mana tuh?
Haduh!! kirain mo ngucapin met ultah...kekeke

00:39:10 SMS from Thez :
Met Ultah ya Bro, smg panjang umur, shat selalu, enteng rjki, n segera menemukan ukhti yg terbaik tuk jadi pendamping hdp, amin.

>> Thanks Bro. Tadinya gua kirain dah nemu ukhti yang nyembunyiin tulang rusuk gua, ternyata dia juga dicurigai nyembunyiin tulang rusuk orang lain. :))


04.28:10 Irma SMS :
Ada yg milad,,ada yg milad,,makan makan,,traktir traktir =D hhe,, met milaD, kang,,smo9a sgera dpertemukan dgn bidadarinya,,^^v dilancarin sgala urusan =)

>> Makasih Im, mau traktir di mana? tapi ajak-ajak teh ***** ya? :D

05:01:20 SMS dari Oci :
Dlm doaku subuh ini kau mnjelma langit yg smalaman takmmejamkn mata, yg meluas bening siap mnerima chy pertama, yg mlengkung hening krn akn mnerima suara-suara...

>> Kok tau saya gak tidur semalaman? :p

05:26 SMS from EQ :
Met ultah brother

>> Thanks Brother

05:51 My Lovely Father
A slmt ultah ka 25 nya. Mudah2an sagala cita2 aa sing kenging karidloan ALLAH. Kalawan dipasihan sehat + panjang umur. Amiiin,,,,,

>> Amiin....

06:01:07 Poedji said,
True friendship is like sound health;the value of it is seldom known until it is lots. Happy Birthday...my frenz

>> Thanks, my frenz...;)

06:56:44 Arytha said,
08.09.2007 10:00 Assalamu'alaykum.Wr.Wb selamat milad, kang donny. Semoga sgla keinginan positif yang kang donny inginkan, dikabulkan 4JJ1.Kpn nikah? Hehe.

>> Amien...tapi kok jam 10.00 sih? dikirimnya kan jam 7 kurang :p Nikah? eu...;))

07:47:49 Raihana,
wilujeung tepang taun.mudah2an aya dina kawilujeungan sareung aya dina tangtayungan Allah SWT Amien...

>> Haha, kawilujeungan teh naon sih? :D

08:54 Oecoep
Boss met ultah y, smoga,,,smoga,,,ente teu milu k dufan?

>> Makasih boss, teu bisa euy, keur riweuh didieu :D

11:53:24 Oci lagi
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang takhenti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana...

15:21:44 Lagi-lagi Oci
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ngibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu...

15:38:20 My Lovely Sister, Nenti...
A, selamat ulang tahun nya. Sing dilancarkeun rejeki + jodona, cenah mamah tos hoyong jadi nini. He3. Sing dikiatkeun iman + sehat lahir batin, aamiin...

>> Haha, saya hampir saja tertawa terbahak-bahak selepas shalat ashar baca SMS ini :D

18:49:10 WIT Nana SMS
Aslm.wr.wb, mat milad ya, pnjng umur + disayang 4JJ1 & hambaNya, mdh rizq, enteng jdh, amin. (atas permintaan Nana, ada yang saya potong, demi kerahasiaan :) )

>> disayang 4JJ1? oh, so sweet...

18:57:29 Oci Lagi Oci Lagi
Magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan kecil itu, menyusup di celah-celah jendela dan pintu, dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku...

>> Lha, kok magribnya jam 7 kurang sih? :p

22:06:58 Masih Oci
Dlm doa malamku kau mnjelma denyut jantungku, yg dengan sabar bersitahan trhdp rasa sakit yang entah batasnya, yg setia mengusut rahasia demi rahasia, yg tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku. Aku mengagumimu, itu sbabnya aku takkan pernah slesai mendoakan kslamtanmu ("Dalam Doaku" - Sapardi Djoko Damono)

>> Nah Loh, kirain puisi buatan sendiri :p ternyata dari si kakek romantis ya?

22:07:31 Oci keneh wae...
Sgala mimpimu, smoga terwujudkan. Sluruh harapmu, smoga terpenuhi. Stiap langkahmu, smoga diberkahi 4w1. Met milad ke-25, Kakek! Sing hade lampah sajatining hirup...:)

>> Amien...amien...amin...Nenek! :p

23:01:17 Amy SMS,
Alles gute zum geburtstag! joyeux anniversaire-> Happy bday 2u...wishing u a bday filled with all good things...

>> Thanks, pokona kitu wae lah :D

Telat 2 hari, Denziro SMS
Waduh waduh boga babaturan teh geus karolot geuningnya, komo aya hiji anu beuki kolot, hehe...met ulang tahun nya don...di doakeun cing sagala weh pokona mah

>> Nuhun, tapi angger weh didinya leuwih kolot :p

Buat semua yang sudah mengucapkan lewat Friendster, SMS, telpon atau langsung saat ketemu. Terima kasih yang sebesar-besarnya :) Tidak banyak yang bisa saya berikan selain do'a, semoga kita selalu diberikan sisa umur yang barakah dan dapat berkumpul lagi di Jannah-Nya. Insya Allah.

S 3 k 3 l 0 4. 100907. 22:40.

Labels:

Posted At Sunday, September 09, 2007

Work-Tour de Sumatera

Terkadang ujian hidup itu memang aneh. Ketika sedang tidak ada yang kita kerjakan, hari-hari dan waktu yang kita miliki benar-benar lowong melompong. Sampai-sampai kita bingung. Akan tetapi, ketika kita sudah mendapatkan atau memiliki sesuatu yang kita kerjakan, datang tawaran lain yang ‘nampaknya’ lebih menarik. Dan bikin kita bingung juga. Saya mengalami hal ini seminggu yang lalu.

Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati pekerjaan jadi operator warnet, datang tawaran untuk menjadi tenaga outsource di Dinas Kependudukan Bandung (Disduk) untuk entry data penduduk Kota Bandung. Lucunya, saya juga masih jadi warga ilegal di Bandung :D. Beruntung, jadwal kedua pekerjaan itu bisa diatur dan tidak bentrok, sehingga bisa saya tangani keduanya. Beruntung juga bos warnet tersebut orangnya fleksibel, mungkin karena menyadari bahwa penghasilan warnet memang sedikit.

Ketika sedang asyik-asyiknya dengan kedua pekerjaan itu, datang lagi sebuah tawaran yang jauh lebih menarik daripada keduanya. Haekal, teman kuliah saya menelepon saya di suatu sore. Dia menceritakan bahwa perusahaan tempatnya bekerja sedang membutuhkan beberapa orang untuk dikirim ke sekitar 50 kota di Indonesia. Tujuannya untuk instalasi sebuah web aplikasi dan training user dalam menggunakan aplikasi tersebut. Aplikasi yang dibuat berupa sebuah e-Library, dibangun dengan PHP dan menggunakan MySQL sebagai Database Server. Rencananya, aplikasi tersebut akan diinstal di mesin dengan platform Linux GSI, sebuah distro turunan Ubuntu yang dimodifikasi oleh Ipteknet.

Menurut Haekal, sebetulnya tenaga di perusahaan tersebut mencukupi dan tidak memerlukan tenaga outsource. Akan tetapi, mereka semua sedang sibuk menyelesaikan proyek yang tidak mungkin ditinggalkan juga. Akhirnya, mereka memutuskan untuk ‘menyewa’ tenaga dari luar, sekitar 7 orang. Salah satu yang dihubungi adalah saya. Awalnya sempat bingung juga, tapi setelah dipikir-pikir lagi, ini adalah sebuah kesempatan yang menarik. Terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja.

Lebih beruntung lagi saya karena kenyataannya bos warnet juga mengijinkan saya, selain itu koordinator tim entry data juga tidak mempermasalahkan, karena kontraknya memang tidak mengikat. Akan tetapi, sebagai pertanggungjawaban saya, saya berusaha untuk mencari pengganti di Disduk dan di warnet, juga menyelesaikan pekerjaan saya sehingga tidak membebani orang yang menggantikan saya. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar.

Proyek instalasi ini terbagi menjadi tujuh rute. Tiap rute terdiri dari 3 orang. Saya kebagian rute B, yaitu ke pulau Sumatera, yang meliputi :
Jakarta - Pekanbaru
Pekanbaru - Dumai
Dumai - Batam
Batam - Tanjung Pinang
Tanjung Pinang - Pangkal Pinang
Pangkal Pinang - Sungai Liat
Sungai Liat - Palembang
Palembang - Kayu Agung
Kayu Agung - Sekayu

Rencananya, saya akan singgah 3 hari di tiap kota, dimulai hari Selasa, 11 September 2007 dan berakhir seminggu menjelang Lebaran. Itu artinya, selama sebulan saya akan melakukan perjalanan tersebut. Beberapa nama kota yang akan saya datangi sebetulnya masih asing buat saya. Akan tetapi, hal ini tidak menjadi masalah buat saya. Kapan lagi bisa ‘mengarungi’ sebagian Sumatera, gratis bahkan dibayar pula? :D Satu-satunya masalah buat saya adalah makanan. Lidah saya memang kurang cocok dengan makanan baru, saya tidak tahu pasti bagaimana nanti mengatasi masalah makanan ini, yang jelas hal tersebut jangan sampai mengganggu perjalanan ini.

Rute yang paling menarik adalah rute E. Beberapa kota yang akan disinggahi oleh rute tersebut adalah Yogyakarta, Denpasar dan Sumbawa. Menarik bukan? Sayangnya rute tersebut sudah diberikan kepada orang lain. Namun, bagaimanapun, saya tetap mensyukuri nikmat ini. :)

Hal yang akan menjadi pengalaman lain bagi saya adalah bahwa perjalanan ini akan bersamaan waktunya dengan bulan Ramadhan. Itu berarti 3/4 waktu Ramadhan saya akan dilalui di tempat yang asing bagi saya. Namun, mudah-mudahan sesuai dengan apa yang saya rencanakan, perjalanan ini akan saya jadikan sebuah perjalanan spiritual bagi saya. Apalagi tepat dengan Ramadhan. Saya berharap ada ’sesuatu’ yang bisa saya ‘temukan’ atau saya dapatkan dari perjalanan ini. Saya juga ingin mengetahui nuansa Ramadhan di tempat lain seperti apa, seumur hidup saya menjalankan shaum Ramadhan di tanah sunda dan dalam nuansa sunda. Kali ini, saya diberikan kesempatan untuk merasakan suasana Ramadhan di tanah Sumatera. Harapannya, ada yang bisa saya ceritakan dan jadikan pengalaman.

Bagi saya, perjalanan ini saya anggap sebagai hadiah ulang tahun yang ke seperempat abad bagi saya. Sekaligus juga sebagai pelarian hiburan karena target saya menikah di bulan September agak mustahil bisa tercapai. Hehe. Di sisi lain, saya pun sedang sangat ingin mengasingkan diri, hiding from everyone, dari teman-teman, dari keluarga, dari semua orang yang saya kenal. Entahlah, sedang ingin saja, tidak ada maksud apa pun. Sejak lama sebetulnya saya berencana untuk melakukan hal ini, pergi ke suatu tempat yang sama sekali baru buat saya, tapi saya tidak tahu caranya dan mau kemana. Alhamdulillah, kesempatan tersebut akan saya dapatkan sebentar lagi. Barangkali, ini adalah jawaban dari Allah atas keresahan saya selama ini. Dan mudah-mudahan, saya bisa kembali ke tanah Sunda dengan spirit baru. Yah, siapa tahu, dalam sebulan itu ada ’sesuatu’ yang benar-benar mengubah diri saya.

Akan tetapi, tetap muncul juga ketakutan, terutama berkaitan dengan masalah transportasi di Indonesia yang masih mengkhawatirkan. Mudah-mudahan semuanya berjalan dengan lancar. Doakan saja.

Oleh sebab itu, karena momentumnya pun cukup tepat, mendekati Ramadhan, sekalian saja saya minta maaf apabila ada kata, sikap dan tingkah saya yang selama ini kurang berkenan. Maaf jika dalam sebulan tersebut ada undangan nikah yang tidak bisa saya hadiri. Maaf jika dalam Ramadhan kali ini tidak merasakan kebersamaan, sahur bersama, buka puasa bersama, shalat tarawih bersama. Maaf jika dalam sebulan ke depan, blog ini tidak saya update karena agak sulit rasanya menulis di tengah perjalanan seperti itu. Halah, kok jadi narsis gini sih akhirnya? :D

S 3 K 3 L 0 4. 090907. 23.03.

Labels:

Posted At Saturday, September 08, 2007

Percik-percik Pikiran

- Happy Birthday to me...! So, what's next?

- Heran, berdasarkan teori probability dan melihat realitas yang ada, kemungkinan untuk bisa dengan si 'dia' itu kecil sekali...! Nggak lebih dari 10%, tapi kenapa si 'dia' bisa muncul tiga kali berturut-turut dalam mimpi? Dan di mimpi itu...doh! Mungkinkah? Atau jangan-jangan...

- Lagi malas bikin puisi dan bingung pilih-pilih syair lagu untuk tema birthday kali ini, tapi kemudian yang terpilih adalah...Lagu Satu dari Iwan Fals

Jalani hidup
Tenang tenang tenanglah seperti karang
Sebab persoalan bagai gelombang
Tenanglah tenang tenanglah sayang


Tak pernah malas
Persoalan yang datang hantam kita
Dan kita tak mungkin untuk menghindar
Semuanya sudah suratan


Oh matahari
Masih setia
Menyinari rumah kita


Tak kan berhenti
Tak kan berhenti
Menghangati hati kita


Sampai tanah ini inginkan kita kembali
Sampai kejenuhan mampu merobek robek hati ini


Sebentar saja
Aku pergi meninggalkan
Membelah langit punguti bintang
Untuk kita jadikan hiasan


Tenang tenang tenanglah sayang
Semuanya sudah suratan
Tenang tenang seperti karang
Bintang bintang jadikan hiasan


Berlomba kita dengan sang waktu
Jenuhkah kita jawab sang waktu
Bangkitlah kita tunggu sang waktu
Tenanglah kita menjawab waktu


Seperti karang
Tenanglah
Seperti karang
Tenanglah

C1H3uL4176. 080907. 2.07.

Labels:

Posted At Saturday, September 01, 2007

Penting, Kurang Penting, Tidak Penting

Tadi malam habis nonton film I Think I Love My Wife yang dibintangi sama Chris Rock di kamar Heri, sendirian aja. Film lama sebetulnya, tapi saya suka banget sama filosofinya Bos si Chris Rock di film itu. Gini katanya...

Kamu akan kehilangan banyak uang karena mengejar wanita, tapi kamu tidak akan kehabisan wanita karena mengejar uang.

Haha. Great! Nyindir perempuan? Nggak juga, itu mah fitrah perempuan sih :p Tidak perlu lah disebutkan contoh-contohnya.

Anyway, buat orang-orang yang punya bakat narsis dan merasa jadi orang penting, mungkin anda semua harus mencoba layanan kronologger. Sebuah layanan mikroblogging buatan orang-orang Indonesia. Idenya menarik. Sebetulnya layanan ini mengadaptasi blog, ada fasilitas posting dan komentar juga, tapi...kronologger bisa dilakukan melalui handphone, entah dengan GPRS atau SMS. Kalau blog bisa beratus-ratus kata, kronologger dibatasi hanya 140 karakter saja, lebih sedikit dari jumlah SMS pada umumnya, tapi itu memang wajar.

Dengan bergabung di kronologger, kita bisa 'melaporkan' kejadian atau kegiatan apa saja yang kita lakukan, dengan siapa? kapan? dimana? Tentunya selama ada sinyal HP dan koneksi internet. Yah, sambil mengasah bakat narsis, siapa tahu suatu saat benar-benar jadi orang penting :p Setidaknya, sekarang saya bisa mengikuti jargon iklan-iklan SMS di televisi...

Mau tahu informasi tentang Donny dan segala aktivitasnya? Akses saja donnyreza.kronologger.com, informasi yang kamu dapatkan, langsung dari HP saya loh...

Haha. Asyik juga. Selain itu, kita juga bisa menyisipkan script dari kronologger di website atau blog kita sehingga apa yang kita posting, bisa tampil di halaman blog atau website kita. Kalau kebetulan ada yang tertarik, jangan lupa add saya jadi teman ya? Selamat mencoba ;)

C1H3uL4176. 010907. 22.27.

Labels:

Posted At Thursday, August 23, 2007

Freeze
Terpikir untuk 'membekukan' dulu psychoavatar dan infinityproject, dan pindah rumah ke mind.donnyreza.net. Sayang soalnya, hosting dan domain yang sudah saya sewa kurang terpakai secara optimal. Padahal, donnyreza.net akan menjadi identitas resmi saya selanjutnya, selain nomor HP saya yang, insya Allah, tidak akan pernah saya ganti.

Ada yang keberatan nggak ya? :D Soalnya 2 blog tersebut memang sudah menjadi 'identitas' saya selama ini, saya juga 'berat' meninggalkan 2 'rumah' tersebut. Ada yang punya saran/masukan? :D

Labels:

Menanti Terwujudnya Sebuah Impian

Sekali lagi, saya merasakan manfaat dari menulis. Sungguh tidak pernah saya bayangkan sebelumnya ketika suatu pagi, SMS yang saya terima benar-benar membahagiakan saya, sekaligus membuat saya tidak habis pikir. Sebuah ajakan sekaligus kesempatan untuk mewujudkan mimpi saya. Nama saya tercantum sebagai penulis buku. Meskipun, hanya sebuah 'sumbangan' untuk mengisi proyek bersama sebuah buku, bukan sebuah buku yang saya tulis sendiri. Naskah tulisan tersebut, kabarnya, sudah masuk ke pihak penerbit. Mudah-mudahan saja bisa goal.

Tidak berfikir panjang ketika saya membalas SMS tersebut, langsung saya sanggupi. Meskipun, ternyata, setelah saya baca detail kisi-kisi tulisan yang harus saya buat, saya sempat terperangah juga. Wah-wah...rupanya saya harus kerja keras untuk menghasilkan sebuah tulisan yang mudah dipahami sekaligus berbobot dan bisa mengajak orang lain untuk melakukan apa yang menjadi misi buku tersebut. Anak panah sudah dilepaskan, tidak mungkin ditarik kembali, maka dengan deadline 5 hari sejak SMS saya terima, saya benar-benar dibuat bekerja keras untuk menghasilkan tulisan yang bagus.

Sedikit bocoran, saya kebagian tugas untuk menulis tentang hubungan antara Jodoh, Istikharah dan Matematika serta sedikit menyinggung Fisika Kuantum. Sebetulnya aneh juga saya yang belum memiliki jodoh disuruh menulis tentang kiat-kiat mendapatkan jodoh. Jangan-jangan, yang bersangkutan nyindir saya ya? :D Lebih mudah untuk mendapatkan referensi tentang istikharah dan hubungannya dengan jodoh. Namun, berhubungan dengan Fisika Kuantum? Di sinilah saya benar-benar dibikin kerja keras sekaligus 'memutar' otak. Hanya sedikit sekali referensi yang saya miliki tentang fisika kuantum. Sebuah buku milik saya, Atom & Quark, yang membahas sedikit tentang fisika kuantum, ada di rumah saya, di Bogor. Begitu juga dengan buku The Hidden Connection (Fritjof Capra) yang menyinggung soal fisika kuantum. Terpikir untuk meminjam The Tao of Physics (Fritjof Capra), sayang sekali teman yang bersangkutan sedang tidak berada di Bandung. Jadinya, tidak sedikitpun buku-buku tersebut menjadi referensi saya.

Beruntung, saya memiliki akses gratis ke internet, namanya juga operator warnet. Saya mulai mencari hal-hal yang berbau fisika kuantum, probabilitas, istikharah dan kaitannya dengan jodoh. Berbekal kemampuan Bahasa Inggris yang teramat pas-pasan, saya paksakan diri saya untuk memahami apa itu fisika kuantum dan bagaimana kaitannya dengan kehidupan manusia. Sungguh menarik bagaimana dunia dipandang dari sisi fisika kuantum. Saya sangat terbantu oleh tulisan-tulisan berbahasa Indonesia yang saya temui di internet yang kemudian menjadi rujukan saya.

Saya acak-acak lagi komputer saya, dan Alhamdulillah, saya menemukan beberapa artikel lagi yang kemudian menambah referensi saya. Salah satunya dari dosen fisika yang pernah bekerja sama dengan saya ketika menjadi asisten dosen fisika, sayangnya karena keterbatasan waktu dan kesibukan, saya tidak sempat bertemu dan mendiskusikan naskah tersebut. Meskipun, saya ingin sekali untuk berdiskusi dengan beliau, tentunya agar tulisan tersebut tidak 'keluar jalur'. Kemudian, saya buka-buka lagi buku saya yang pernah saya baca, atau yang saya curigai mengulas atau menyinggung tentang fisika kuantum. Alhamdulillah, ada beberapa buku yang menyinggung soal itu, meskipun terlalu sedikit. Saya pun kemudian memaksakan diri untuk main ke gramedia demi untuk itu. Sayangnya, tidak banyak yang bisa saya dapatkan di sana, mestinya saya main ke perpustakaan ITB atau UNPAD saja ya?

Ketika saya menyanggupi untuk menulis artikel tersebut, saya tidak menduga kalau waktu yang 'disediakan' hanya 5 hari. Tadinya, saya kira, untuk 2 minggu yang akan datang. Saya terlambat membaca email, berkurang 1 hari jatah saya. Kemudian, ternyata saya sudah menjadwalkan 1 hari untuk berangkat ke Jakarta dalam rangka menghadiri undangan 3 orang teman saya. Sisa 3 hari lagi. Esoknya, saya harus menjadi panitia pernikahan teman di Bandung, setelah itu saya harus langsung memenuhi kewajiban saya jaga warnet. Satu hari lagi terbuang. Meskipun ketika jaga warnet saya berada di depan komputer, tidak banyak yang bisa saya tulis, karena terlalu banyak gangguan. Maka, saya gunakan waktu tersebut untuk membaca-baca saja, sekaligus mengendapkan kerangka pikiran artikel tersebut. Dan terpaksa, saya meminta jatah 1 hari lagi, karena ketika menjelang deadline, artikel tersebut belum sampai setengah dari 20-30 halaman yang diminta.

Sungguh pengalaman luar biasa. Bukan hal yang mudah ternyata menghasilkan tulisan yang ilmiah, mudah dipahami, sekaligus menggugah. Mungkin, karena saya yang belum terbiasa juga. Selama ini, saya menulis di blog secara spontan, atau berdasarkan pengalaman, atau berdasarkan apa yang sudah lama 'diendapkan' di dalam otak saya. Kecuali skripsi atau tugas-tugas kampus, jarang sekali saya menulis secara sistematis dan melalui proses observasi. Apalagi, sudah 2 tahun sejak saya lulus kuliah, tidak pernah lagi saya menulis secara sistematis.

Ada satu saat dimana saya benar-benar kehabisan kata-kata. Blank. Saya baca kembali artikel tersebut berulang kali, dan saya tidak tahu harus menulis apa lagi. Saya ceritakan kondisi saya ini melalui SMS kepada seorang teman. Dia kemudian menyemangati saya agar tetap optimis. Saya sih selalu optimis bisa menyelesaikan apa pun yang saya kerjakan, termasuk artikel tersebut. Saya pun kemudian memaksakan diri mengejar target tersebut, dan ternyata berhasil juga mencapai target minimal halaman yang harus saya penuhi. Meskipun, banyak sekali kekurangan yang bisa ditemukan, terlalu banyak repetisi (pengulangan). Dan ada bagian yang, menurut saya, agak membosankan juga. Namun, akhirnya saya kirim juga tulisan tersebut, sisanya...tinggal berdo'a saja.

Sebagai uji kelayakan, saya percayai 3 orang (oci, dajal dan arita) untuk melakukan kritik, masukan, komentar dan saran perihal artikel tersebut. Dan tentunya dengan pesan agar tulisan tersebut jangan bocor dulu ke orang lain. Hehe. Dua orang diantaranya sudah membaca tulisan tersebut dan memberikan masukan, satu orang lagi belum sempat dikarenakan ada masalah. Namun, Alhamdulillah, masukan yang saya dapatkan positif, meskipun saya juga menerima sebuah kritikan tentang terlalu banyaknya repetisi di tulisan tersebut dan adanya dalil-dalil yang kurang kuat dan kurang relevan, serta adanya kesalahan pengetikan yang ternyata malah 'menyesatkan'. Dan konon, artikel tersebut setengahnya 'dibuang' dan dilakukan revisi oleh editor yang sekaligus orang yang mengajak saya tersebut, yaitu kang Shodiq.

Muncul juga sebuah kekhawatiran seandainya artikel tersebut jadi diterbitkan. Yaitu, ketika tulisan tersebut sampai ke tangan-tangan mereka yang lebih ahli, utamanya dalam bidang fisika, matematika dan fikih. Namun, saya pikir, tentunya akan lebih berguna bagi saya jika kemudian saya mendapatkan kritik dari para ahli tersebut. Yah, ini sih cuma GR-GR-an saja. Hehehe. Harapan saya, tentunya artikel tersebut bisa mewarnai khazanah dunia tulis menulis di Indonesia, dan memiliki manfaat untuk orang lain, sehingga jadi amal jariah buat saya. Bangga juga kan meninggalkan sesuatu yang bisa membuat orang lain mengingat kita?

Namun, ada yang lebih berat lagi daripada itu semua, yaitu mengamalkan apa yang saya tulis tersebut. Wah, benar-benar sebuah perjuangan. Mudah-mudahan saya bisa istiqamah.

C1H3uL4176. 230807. 21.08.

Nb : Thanks to Kang Shodiq, Oci, Dajal dan Arita :)

Labels: ,

Copyright © 2006 Bom Bye
Design : Donny Reza